Kamis, 06 Agustus 2015

Enggeh

Ketika tangan tanpa senjata dan kepala tanpa baja, “Insya Allah” menjadi jawaban terbaik sebagai bentuk kesiapan menerima sebuah kesimpulan dari harapan yang sekian lamanya dibangun penuh serak dan seok-seok nafas menahan rintih terdalam.

Ternyata baru hari ini eksistensi dari renungan dan penghayatan panjang menampakkan dirinya bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dipojok dan ketakutan. Menerima sebuah hasil dengan wajah menunduk dan malu.

Ah, inilah jawabannya!

Kuatnya belenggu harapan yang mengikat eksistensi, ah itu soal biasa yang menjadi luar biasa. Kepingan bangunan runtuh sedikit demi sedikit karena tak sesuai dengan kenyataan seperti hujan salju yang putih bersih tetapi lupa bahwa bisa merisaukan dan bahkan membunuh.

Memang tidak salah jika dunia ini penuh dengan metafor. Manusia hanya di dirayu oleh imaji yang berjelajah seolah-olah itulah masa depan tanpa kepingan cacat. Sederhananya adalah roda sepeda depan dan belakang yang berada dalam satu-kesatuan (dunia) namun tidak pernah bisa bersatu dan bersentuhan, sebagai analogi.

Harapan-harapan tertawa tanpa rupa menyeret eksistensi yang mempunyai niat suci berteriak di dalam ruang gelap malu akan sinar matahari. Diam tanpa gerak ditimbun oleh harapannya sendiri yang tak tercapai.

Ah, inilah jawabannya!

Sekali lagi, inilah jawabannya!

06 Agustus 2015