Ketika tangan tanpa
senjata dan kepala tanpa baja, “Insya Allah” menjadi jawaban terbaik sebagai bentuk
kesiapan menerima sebuah kesimpulan dari harapan yang sekian lamanya dibangun
penuh serak dan seok-seok nafas menahan rintih terdalam.
Ternyata baru hari ini eksistensi
dari renungan dan penghayatan panjang menampakkan dirinya bahwa ia tidak bisa
berbuat apa-apa selain diam dipojok dan ketakutan. Menerima sebuah hasil dengan
wajah menunduk dan malu.
Ah, inilah jawabannya!
Kuatnya belenggu harapan
yang mengikat eksistensi, ah itu soal biasa yang menjadi luar biasa.
Kepingan bangunan runtuh sedikit demi sedikit karena tak sesuai dengan
kenyataan seperti hujan salju yang putih bersih tetapi lupa bahwa bisa
merisaukan dan bahkan membunuh.
Memang tidak salah jika
dunia ini penuh dengan metafor. Manusia hanya di dirayu oleh imaji yang
berjelajah seolah-olah itulah masa depan tanpa kepingan cacat. Sederhananya
adalah roda sepeda depan dan belakang yang berada dalam satu-kesatuan (dunia)
namun tidak pernah bisa bersatu dan bersentuhan, sebagai analogi.
Harapan-harapan tertawa
tanpa rupa menyeret eksistensi yang mempunyai niat suci berteriak di dalam
ruang gelap malu akan sinar matahari. Diam tanpa gerak ditimbun oleh harapannya
sendiri yang tak tercapai.
Ah, inilah jawabannya!
Sekali lagi, inilah
jawabannya!
06
Agustus 2015