Minggu, 24 Mei 2015

Seminggu


Seminggu yang lalu saya tidak merasakan ketenangan disaat sampean berucap tak akan ada di Surabaya selama seminggu dan hanya berucap sekata bahwa sampean ingin ke Palu. Entah ada acara apa saya tak tahu. Khawatirkan sampean yang disana, mungkin tidak bagi sampean sendiri atau sebaliknya (ah itu hanya pengandaian angan-angan saja).
Seminggu yang lalu, gairah kuliah saya tidak begitu memuncak sebagaimana senyum sampean hadir disana. Penampilan saya seraya orang sakit dan bergulur rasa sedih yang campur aduk. Hingga ada seorang teman yang bertanya mengapa saya berbeda hari itu dan saya jawab, inilah saya apa adanya (menepis rasa yang sesungguhnya).
Seminggu yang lalu itu pula, senyum saya tiada lagi mewarnai hari-hari saya. Tiada lagi semangat membangun revolusi cinta atau sudah mulai kendur. Namun sesaat saya bangkit dan teringat, bahwa saya bangkit dan berjuang selama ini di Surabaya hanya dan tak lain karena semangat yang terpancar dari sampean dan manifestasinya dalam diri saya. Apa pun yang saya lakukan selama ini, belajar filsafat dan lain-lain karena saya tidak pernah melupakan dan membuang bayangan senyum sampean dalam diri saya. Akhirnya, walaupun tanpa sampean didepan mata saya, saya tetap semangat untuk membaca dan menulis cerita-cerita kita didalam kertas yang penuh dengan keterbatasan. Karena, sampean selalu ada dalam revolusi hidup saya.
Jika kiranya semua yang saya rasakan adalah bersifat berlebihan bagi sampean. Itu tidak dan tidak. Melainkan itu masih berada dalam kekurangan yang sangat kurang. Untuk itu, dalam setiap waktu saya selalu merevolusi cinta ini untuk sampean hingga abtrak nantinya bagi sampean dan tak lagi sampean ketahui. Seking besarnya.
Satu hal yang akan terus saya lakukan dalam hidup ini yaitu “Revolusi cinta saya tak akan pernah mati”.
Assalamualaikum,

Terimakasih dan maaf sebelumnya.

Ada alasannya untuk ucapan lebay


Sering dan tak asing lagi kiranya, bahwa kata-kata saya baik dalam bentuk tulisan atau ucapan membuat anda berkata LEBAY, saya tahu itu dan apa alasannya mengapa disetiap kata terucap dan tertulis dari saya membuat anda meronta berucap kata lebay. Karena disetiap kata baik tulisan atau ucapan dari saya tidaklah pernah mewakili apa yang ada dalam diri saya sebenarnya, ia hanya bingkai atau bentuk yang jauh dari kesempurnaan. Makna sebenarnya masih belum pernah anda sentuh dan rasakan, anda sebenarnya hanyalah mendengar.
Kata lebay itu pantas bagi saya, karena saya tidak bisa membahasakan lukisan indah yang sebenarnya dalam hati dan batin saya. Makna yang terkandung dalam bahasa dan hati serta batin sangatlah jauh berbeda dan tak akan pernah sama.

Bahasa adalah bentuk keterbatasan, bukan substansi.

Apa ini yang seharusnya.... entahLah...???


Mungkin persahabatan lebih baik daripada merekatkan cinta yang telah lama bersemayam dan walaupun posisi itu masih menyisahkan sayat-sayat sakit yang dibingkai senyum, canda dan tawa.
Andai saja, jika saya boleh mengandai-andai bahwa sejarah itu akan berbuah manis. Maka tak akan ada dan terjadi tulisan yang mengisahkan rasa sakit ini. Namun tulisan ini akan membalik menjadi cerita sebagaimana mestinya.
Saya telah lama berlarut mengawang-ngawang sebuah kisah masa depan di setiap waktu. Membayangkan sebuah sejarah dialektika untuk terus merevolusi cinta dan kasih sayang kita beruda. Meredam setiap amarah yang ada. Memeluk masalah bersama dan mengisi kekosongan yang melanda. Akan tetapi apa, ini semua hanyalah bentuk utopia saja, senyatanya ia tak ada apa-apanya.
Pernah suatu ketika, saya merintih sakit dua minggu lamanya, hanya karena kehebatan cinta yang saya punya untuk anda. Gelisah dikamar dan akhirnya saya memilih menjadi orang kamar. Perjuangan saya selama itu tak lain, jika bukan karena ketulusan cinta saya pada anda. Hati saya terbelah saat mendengar anda telah membuat pilihan untuk bersanding di dekat pengamanan orang lain. Saya tersedu-sedu, menahan perih rintihan cinta saya untuk anda yang masih belum tersampaikan jua.
Apalah arti seorang saya yang dirundung rintih, gelisah, serta gundah gulana yang begitu lamanya saya rasakan. Anda mungkin tidak pernah tahu dan memiliki perasangka sedikit-pun tentang arti dan makna senyum saya tatkala bertemu dengan anda. Dibalik kebugaran senyum itu, ada rintih pula dibaliknya. Batin saya tertekan asmara berolah, campur aduk, gersang karena air damai cinta anda tak dapat saya peluk untuk mengaliri di setiap celah didalamnya.

Maaf

Terimakasih

Si Gadis Berkacamata


Disela-sela aktivitasku tatkala menulis tentang filsafat, raut wajah senyumnya selalu hadir. Sehingga menghentikanku sejenak. Dan tatkala itu pula aku selalu terburu-buru untuk segera menyelesaikan tulisan filosofisku dan beralih menulis tentangnya.
Mar’atus Sholihah, si gadis berkacamata. Indah nan anggun serta senyumnya yang manja. Aku tergoda olehnya. Karena tak pernah seorang Ishak tergoda oleh seorang gadis dan tidak bisa memilikinya, namun kali ini saja dengan si dia, Mar’ah.
Tatkala berdua, ketepatan dia tidak pakai kacamata, aku selalu bertanya “kacamatanya mana?, iya ada, jawabnya. Kenapa tidak dipakek? Pusing sahutnya.
Sampean tahu gak? Kalo sampean pake’ kacamata lebih indah saya lihat. Keindahanku tergantung kacamata, jawabnya. Bukan begitu, jawabku.

Mar’ah, aku tidak akan memilikimu tanpa adanya ikatan suci. Dalam filsafat dikenal dengan bahasa yang mengikat dan penuh dengan tanggung jawab.

Belum Selsai

Minggu 0 Mei 2014
Novel Mini : Uraian Kisah-Kisah Silam
Lama sudah rasanya tak berjumpa dengan si Dia yang selalu mengganggu batin. Entah apa kiranya jika perjumpaan yang di iringi senyum manja mengikat itu terjadi kembali. Sunyi malam-malam tak lepasnya sosok wajah si Dia berkaca mata itu. Mungkin cap atau stempel dalam hatinya sudah tak lagi bisa dihapus. Namun apa kira jika siksa yang melanda hanya itu hanya dilampiasi oleh senyum-senyum tak jelas. Memang pagi itu sempat berbincang-bincang dengannya di suatu forum formal yang diadakan oleh pihak kemahasiswaan. Dengan nada sedikit samar aku memanggilnya.
            “Mar’ah, bisa kesini, saya mau ngobrol sebentar.
Senyumnya-pun menuai didepan mata. Datanglah dia menghampiri.
            “Iya, ada apa?
            “Sampean sibuk tah? Sepertinya dari tadi mata anda melihat seolah-olah tidak jelas kesana kemari.
“Tidak, memangnya sampean menafsirinya bagaimana?
            “Iya seperti tadi, seperti orang yang sedang ebingungan.
“Santai saja.
Tempat duduk kami memang tidak jauh dan tidak terlalu dekat, mungkin hanya selangkah kaki jarak antara mata ke mata. Bisikan-bisan obrolan yang terurai agar tidak ada yang tahu. Ku bisikan padanya “bolehkan kita ngobrol sebentar sebelum acara ini dimulai.
            “Memangnya ada masalah apa? Sahutnya dengan sedikit heran.
            “Begini, kemarin itu sampean kan sudah terima file dari saya. Pasti pahamkan apa yang dimaksud saya.
            “Iya, saya paham, lantas ada apa dengan file itu?
            “Saya kira dan saya yakin tentang hal ini, dengan file yang terisi siratan atau uraian kisah silam itu. Dan saya yakin sampean tidak akan bisa menghindari akan fakta dibalik layar tulisan itu.
“Memang ia, saya tak dapat menghindarinya. Tapi bagus ko’ tulisannya, say suka.
Responnya tentang tulisan itu dengan mengatakan bagus sungguh sudah basi dan baku sekali, karena tak ada hari tanpanya memuji fakta yang ia terima dan kritiknya terhadap realita ia selalu selipkan senyum-senyumnya.
Dengan kata-katanya bagus dan aku suka membuat aku hampa mendengarnya, karena aku tak pernah bisa percaya diri sebelum realita dunia ini merespon baik.
            “Namun ketika saya membaca tulisannya sampean itu ada dua pemetakan, transparan dan samar penuh rahasia, dan saya tahu itu karena itu sudah ciri khasnya sampean sepanajang saya kenal, tidak jelas dan penuh teka-teki dan teman-teman kelas pun meng-amini itu. Dengan nada senyumnya Dia mengutarakan itu semua. Saat itu pula spontan bibirku melebar sedikit tersenyum.
“Aku mohon maaf sebelumnya. Mungkinkah tulisan itu menyakitkan pihak lain atau ada siratan sedikitlah atau juga ada cerita yang salah disitu?
“Saya kira tidak, namun ada sih sedikit. Ya sudahlah santai saja.
Tanggapannya cukup meneteskan tinta bekas sakit dihati-ku. Karena aku tak yakin sama sekali dengan kata-kata santainya “santai saja”.
Tatapan matanya sudah lain saat ku lihat dan tafsiran-ku sudah berbeda tentang gerak gerik wajah, duduknya dan matanya. Aku merasa bersalah sekali menulis cerita pahit kelam itu.
            “Sekali lagi saya minta maaf, sungguh saya minta maaf.
            “Santai saja kale. Ucapnya dengan senyum.
            “Oya, kalau saya boleh bertanya lebih mendalam, apakah sampean sekarang masih merakan getar-getar masa silam itu. Dengan bertanya ini saya harap dengan sangat sampean menjawabnya dengan jujur.
“Sudahlah tak usah bahas itu lagi, semua kan sudah lewat.
Dengan spontan aku ungkapkan padanya tentang kegelisahan hari-ini ini.
            “Akan tetapi seandainya sampean tahu, malu-lah yang akan saya dapat dan jika anda tidak mengetahuinya, maka siksalah yang saya dapatkan. Jujur, hari-hari ini saya selalu dihantui bayang-bayang wajah sampean, sungguh tak ada niat saya untuk menuai kontroversi tentang kata ini. inilah yang sesungguhnya...



“Mengapa Aku Terlalu Yakin?”


Kisahku tentangmu tak seindah kisahmu dengannya. Ku yakin itu, walaupun kau tak merasakannya dan hanya aku seorang saja. Mengapa aku terlalu yakin?, karena inilah yang aku rasakan selama ini, membayangkanmu menjadi milikku selamanya (fiddun yaa wal akhiroh). Bukankan itu juga kau rasakan dulu kala.
Bicara soal rasaku tentangmu, kertas ini tak akan mampu memuat ceritanya dan aku pun tak mampu menceritakannya, saking terlalu indahnya. Gundah gulana aku dibuat olehmu. Mengapa tidak! Wong, Setiap senyummu yang bersifat permanen selalu dan tak permah dapat terhapus dalam diriku. Mengapa aku tak mengatakan senyummu permanen dalam benak, ingatan, intuisi, bayangan dan lain-lainnya, karena setiap senyummu menjelma dalam dan seluruh ke-“Aku”an-Ku.
Mengapa aku terlalu yakin? Inilah sejarahnya!. Walaupun toh dalam bentuk konkritnya (materilnya) tak pernah ada jejaknya (Aku & Kamu). Karena dalam bentuk konkritnya, jelas aku tak bisa memanifestasikannya, hingga akhirnya aku lari pada ranah ontologi[1] yang bersifat metafisika (being) bukan (beings).
Begitu juga mengapa aku terlalu yakin? Padahal yang aku rasakan ini bukanlah bersifat fenomen melainkan noumena[2]. Dalam setiap langkahmu aku amati dan aku pahami hingga aku mencoba memahami (Jerman: Verstehen). Dari situ, aku mulai mengerti bahwa kau sudah dan memang tak seharusnya aku miliki dalam bentuk fenomen atau dengan penampakan pada realitas terbuka, melainkan aku memilih realitas tertutup yaitu hanya akulah yang merasakannya[3]. Artinya apa, diam-diam aku berbohong dan berpura-pura pada diriku sendiri dalam bentuk empirisnya dan nyata dan benar dalam bentuk rahasia. Dan diam-diam ini juga merupakan bentuk ketidakjujuran terhadap diriku sendiri.
Mengapa aku terlalu yakin? Inilah sejarahnya!. Kaulah cerita tertulis dengan pasti, yang hanya untuk-Ku. Aku merasa tak apa-apa walaupun ini adalah suatu kanyataan yang bersifat historis bahwa “aku dikonsumsi oleh diriku sendiri hingga asing bagiku”.
Jika aku tak dapat menyentuhmu dengan tanganku, maka aku akan menyentuhmu dengan tatapanku. Jika aku tak dapat menyentuhmu dengan bahasa-Ku, maka aku akan menyentuhmu dengan bahasa naluriku. Mungkin inilah kata akhirku, juga menjadi kata kepuran-puraanku dibalik senyummu yang aku nikmati yang tak kau ketahui selama ini.
ttd: 12 Februari 2015
Mohammad Ishak Maulana



[1] Heidegger membedakan antara being dan beings. Being bagi heidegger adalah “ada”, sedangkan Beings adalah adaan-adaan atau mengada-ada.
[2] Immanuel Kant membedakan realitas menjadi dua, yaitu fenomena dan noumena. Fenomena adalah sesuatu yang tampak oleh indera, dan noumena adalah bentuk metafisik yang tampak dibelakang fenomena.
[3] Mohammad Arkoun membagi pengetahuan (al-Quran) masyarakat menjadi dua, yaitu corpus terbuka dan corpus tertutup. Corpus terbuka adalah pengetahuan yang bersifat umum, sedangkan corpus tertutup adalah pengetahuan individu atau khusus.

Tanpa Judul

Mar’ah, perasaanku tak pernah padam untukmu. Walaupun sudah sekian lama waktu ini berlaju. Walaupun sudah kau lupakan aku. Walaupun kau telah buang aku. Walaupun kau telah dengan yang lain. Aku tetap tersenyum untukmu, tetap terbuka untukmu, tetap setia menantimu untuk ku jadikan permaisuri fiddun yaa wal akhiroh-ku.
Hari-hari ini, engkau mungkin telah lupakan aku. Tidak begitu merespon aku. Tidak begitu tersenyum lagi untuk ku dan tidak mempunyai makna lagi senyummu untukku. Hal biasa bagiku, karena sudah lama ku alami semua itu. Namun hati dan perasaannku, tetap sayang padamu.
17 Februari 2015 kemaren, cukup parah aku merindukanmu. Terlena aku dibuat senyummu. Sampai kau hadir dalam mimpiku dalam keadaan senyum dan tersenyum ada di depanku. Ingin aku utarakan isi perasaanku dalam mimpi itu, tapi aku sadar bahwa aku tak mungkin ucapkan isi hatiku. Akhirnya, aku hanya berbalik tersenyum untukmu.

Dalam mimpi itu, engkau tak ku sentuh sedikitpun, hanya saja, aku tersenyum.

Rabu, 20 Mei 2015

Tanpa Judul

Mar’ah, engkau adalah wanita yang berbeda. Engkau adalah wanita yang mampu mengobrak-abrik diriku yang tahan terhadap panjangnya mencintai seorang wanita. Mar’ah engkau sangat berbeda. Dari sekian wanita yang pernah hadir dalam hidupku tidak ada satu pun yang membuat aku separah ini. Engkau mungkin tersenyum dan santai disana, dan juga mungkin engkau tidak tahu bahwa diriku sungguh tidak dapat melepasmu begitu saja. Artinya apa, selama ini hanya kamu yang menjadi bayangan dalam setiap detik ku. Engkau memang tidak tahu hal itu, karena aku sendiri memang tidak berupaya untuk mengungkapkannya. Tapi, aku rasa bahwa engkau tahu tentangku terhadapmu, namun pengetahuanmu tentangku tidaklah sebesar rasaku untukmu.

Inilah Sejarahnya

Dua tahun setengah sudah sejarah itu terkenang, namun tak kunjung jadi kenyataan. Walaupun tetap terkenang dan tidak pernah menjadi setitik debu pun kenyataannya, aku tidak pernah merasa bahwa itu hanyalah kepalsuan belaka, melainkan aku anggap itu semua keaslian yang pasti dan tidak dapat terpungkiri. Inilah sejarahnya yang selalu bersifat dinamis dan aktif walau bukan dalam tataran empiris. Karena aku percaya jika perasaan diaplikasikan dalam bentuk konkritnya yang bersifat empiris akan lekas terkikis oleh lajunya detik. Karena kecemasan yang dibawa oleh manusia sejak ia hadir ke dunia tidak pernah di coba untuk dilepaskan.
Alkisah suatu hari perasaan itu akan terepresentasikan oleh dorongan yang kuat, namun sekali lagi logika melakukan pemberontakan besar-besaran dan akhirnya keinginan itu terdekonstruksi secara tiba-tiba dan akhirnya menjadi keinginan yang tertunda.
Ketertundaan ini bukanlah hal yang tidak pernah diselimuti oleh perih, akan tetapi bukan hanya menyelimuti melainkan juga menjadi satu dalam bingkai kegelisahan. Kegelisahan yang terus menjadi hakikat seorang diri, akhirnya dinikmati dengan intuisi dan imajinasi yang sangat istimewa melebihi representasi nyatanya.

Saat ku mulai melakukan interpretasi terhadap dia, aku tidak pernah merasakan kecemasan akan tetapi kebahagiaan yang terus melanda dan sampai tersenyum pun aku tidak menyadarinya.

Tanpa judul

Suatu hari, aku pernah bercakap dengan salah satu teman dekatnya.
            “Put, bagaimana perasaannya hari-hari ini pada-Ku?
            “Ya, aku tak tahu apa-apa lagi. Jawabnya.
            “Mengapa demikian? Tanya Ku.
            “Mungkin dia sudah kecewa pada-Mu.
            “Kecewa karena apa? Tanya Ku dengan kaget.
            “Karena kau tak mengungkapkannya, saat ia menunggu ungkapan itu.
            “ya sudah, terimakasih. Salam, aku masih menyimpannya.
Akhir dari percakapan itu, ku coba renungi dan hayati. Hati-Ku berucap... “Belum aku memilikinya, ia sudah terluka. Apa lagi .......”

*****

History Love Me

Mar’atus Sholihah itulah namanya. Sang wanita solihah yang sangat aku bangga semenjak aku mengenalnya. Senyum manisnya, itulah yang membuat-Ku tak tahan terhadapnya. Ya mau bagaimana lagi, ikatan resmi tetap tak terjalin. Namun aku sangat yakin bahwa ikatan batin begitu mengikat.
Lama sudah rasanya ikatan batin itu, hempasan angin dan goda orang-orang sekelilingku tak mampu menggubris rasa kasih-Ku padanya. Memang rasa itu tak Ku ungkap lewat kata yang hanya mampu ditangkap oleh indera. Karena Aku sangat yakin, bahwa ungkapan rasa kasih tidak hanya dan harus dengan berhadapan dan bertuliskan tinta di atas kertas. Semua itu sudah basi dan terlalu klasik bagi Ku.
Walau, aku hanya mendapat senyumnya di pagi hari saat kuliah. Aku sangat bahagia sekali, tanpa menyentuhnya pun. Dalam hati pun berkata “mengapa demikian?” ah, entahlah pertanyaan itu hanya mengikis rasa kasihku padanya.
Jujur aku tak peduli sama sekali, ia suka, ia cinta, ia sayang dan bahkan ia menganggap ku apa pun atau tidak pun. Aku hanya bermodalkan yakin seyakin mungkin, bahwa dalam hatinya menyimpan rasa padaku. Walau hanya sebutir debu, atau sekasat mata bagai angin.
Pernah suatu ketika, saat ku ingat pertama kali masuk perguruan tinggi, dimana aku tak kenal siapa-siapa. Namun, satu kelompok dengannya merupakan awal dari semua rasa kasih ku padanya.
Dewasa ini mungkin ia sudah kecewa pada-Ku. Ku yakin itu. Kecewa karena tak ku utarakan niat tulus ku ini padanya. Memang aku sengaja, karena dibalik semua itu ada ke khawatiran besar dalam hidup-Ku.
“Jika ku ucap dan ungkap kata cinta dan sayang di depannya. Lantas ia bahagia, karena momen itu. Aku pikir, ini adalah awal luka yang di bingkai oleh bahagia. Mengapa demikian? Ia, dan ia. Bingkai, aku tak mau, bingkai, aku tak suka dan bingkai, aku tak setuju padanya. Karena bingkai akan meneteskan air duka. Sama sekali tak Ku suka dan Ku ingin tetesan air duka”.
*******

04 Januari 2015

Beginilah sejarahnya,

Siapa kira dia akan sia-siakan aku yang sangat tulus mencintainya. Dan siapa kira juga akibat kejadian silam itu dia telah mampu mencampakkan aku untuk waktu yang cukup lama. Memang senyumnya tak pernah pudar walau diterpa oleh sejarah yang membuatnya mencampakkanku. Namun, apalah arti senyumnya saat ini, yang sudah tidak dapat aku tafsirkan lagi. Mungkin ini yang disebut sebagai “terlebelahnya integritas hati”.
Sudahlah, mungkin inilah sejarahnya. Maaf, itu mungkin ungkapan yang tidak akan ia ejawantahkan lagi. Walau begitu, aku hanya dapat melakukan satu hal yaitu, memeluk dan menyentuhnya dengan tatapanku.
Beginilah sejarahnya, apa yang aku lakukan selama ini walaupun tidak secara terang-terangan bahwa hatiku sangat menginginkannya menjadi pelipur lara dikala senja tiba kini menjadi bualan yang aku anggap sebagai balasan yang setimpal. Dan ini harus diterima dengan penuh arti dan makna.
Setelah perginya ia (hatinya untukku), yang aku lakukan hanyalah menghayal setinggi mungkin bahwa aku telah memilikinya secara halal. Aku tau ini dusta, dan aku tau inilah khayalan yang tiada siapapun tidak merasakannya.
Akhir dari ini, aku hanya bisa berharap, bahwa ia harus tetap baik-baik saja. Melupakannya, adalah hal tersulit bagiku. Sampai kapan pun dan sampai kapan pun, engkaulah bidadari khayalanku, untuk selamanya. Jika kau masih tak dapat menjadi milikku dalam dua realitas (bayangan dan kenyataan).
Malam
22 Januari 2015

Engkau dalam Aku

Mar’ah, mungkin dalam benak dan pikir-ku selama ini bukan engkau yang sesungguhnya. Melainkan engkau adalah aku atau engkau yang dipahami lewat aku. Maka tak Ku sadari sebelumnya, jika selama ini aku hanyalah mengiyakan engkau ada untuk ku dan tulus kumiliki. Begitu juga aku terlalu lama dikonsumsi oleh pikirku sendiri sehingga melupakan engkau yang sesungguhnya dan mengingatkan engkau dalam diriku yang aku pahami. Jadi, selama ini aku hanya berpura-pura saja pada diriku sendiri untuk mengisi resah dengan senyummu lewat renunganku tentangmu. Namun aku sadar satu hal, semua ini hanyalah renungan dan interpretasiku saja atas dirimu dan juga merupakan ketidakjujuranku untuk diriku sendiri.
Engkau sendiri atau engkau bagiku, inilah kata yang mengawali kesadaranku atas kepura-puraanku memilikimu. Jika engkau sendiri, jauh sekali aku untuk memahami yang sesungguhnya. Dan jika engkau bagiku, indah rasanya dan tiada satu duanya.
Alhamdulillah, berkat “kotak obat filsafat” yang aku temukan. Dan Aku meminumnya satu dari sekian banyak obat filsafat yang ada dalam kotak obat filsafat itu akhirnya aku sadar satu hal sebagaimana yang aku katakan dalam paragraf diatas. Bahwa engkau ku miliki hanya lewat ke-aku-an-Ku.
*****
Jika dulu engkau yang sakit, kini akulah yang merasakannya. Karena inilah pilihanku, memilih sakit di akhir daripada diawal sebagaimana engkau rasakan dahulu. Dan apa yang terjadi dewasa ini, lihatlah dirimu kini bahagia. Maaf inilah bacaanku tentangmu!
Aku memahamimu bukan darimu, jika pun ia itu hanyalah keinginan saja dan tak akan pernah jadi nyata. Begitu juga sebaliknya dimana selama ini engkau memahamiku dengan dirimu dan tak akan pernah engkau mampu terjun langsung menjadi diriku untuk memahami aku sebagai aku yang an Sich.
Sebagai makhluk Tuhan, kita hanya mempunyai dua kemungkinan tentang dunia ini; pertama, dunia itu sendiri atau dunia ia adanya. Kedua, dunia yang kita lihat atau dunia yang tampak dalam pikiran kita.
Sekali lagi, Aku telah menyalahgunakan diriku sendiri untuk berpura-pura pada diriku sendiri telah memilikimu, padahal tidak pada an Sich-nya.
Maaf, sekali lagi maaf! Aku sudah berbuat demikian jauh dan lebih padamu. Ini merupakan ketidakjujuranku pada diriku dan juga padamu. Padahal, seorang insan itu haruslah berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi tindakan. Namun aku tidak sejalur dengan kata-kata itu.
Malam
20 Januari 2015

Apakah Sebaliknya?

Sebelumnya memang ada rasa yang sama-sama tiada rasa tahu diantara kita, namun rasa itu terungkap dengan sendirinya tanpa disadari oleh rahasia yang telah lama merahasia. Jujur dalam diri memang ingin rasa itu tahu sama tahu dan saling paham memahami. Malu-malu telah merobek kekuatan untuk mengungkap rasa yang terpendam.
Kebersamaan yang dijadikan cita-cita, sedikit demi sedikit kian terpenuhi oleh gerak laju waktu yang tanpa disadari membuntuti rasa-rasa kita. Haaaa haaa ...,, sudah jadul kiranya jika rasa itu terus membeku tanpa ungkapan empat tatap kelopak mata. Sebenarnya ingin sekali, namun halangan-halangan yang terus membayangi membuat keinginan layu ditelan waktu.
Mar’ah sang historis perubahan hati, sudah lama kiranya jika kita boleh saling jujur, yaaa apa kira kita tak bisa saling terbuka. Dewasa ini malah kita saling menutupi semua gejolak rasa. Intuisi bukanlah permainan yang dianggapmu dulu, melainkan sebuah tayangan yang tak pernah diinginkan. Karena intuisi itu sudah baku, pak Umam bilang “intuisi atau ide-ide untuk dewasa ini selayaknya sudah harus jadi aplikasi yang bukan lagi berupa tindakan konservatif”.
Yaaa wajarlah kita begini, situasi antara kita sudah layu-layu kering... haaa haaa
Jujur sih, hari-hari ini memang Aku merasa selalu mengingat-ingat kamu, yah mau gimana lagi.. anggapan tak jelas itu masih melekat di alam bawah sadarmu. Rasa-rasa itu kini kian hari bangkit lagi dalam diriku, Apakah sebaliknya? Sudahlah...!!!
Aku juga bingung, ide dan alam bawah sadar ini selalu memunculkan senyummu, dan aku juga heran sih, tiap kali muncul bayangan-mu Aku selalu tersenyum dengan sendiri... haaa haa... ini bukanlah permainan yang dianggap oleh-Mu, melainkan ini adalah kenyataan yang masih bersifat metafisik bukan berbentuk realita yang dapat kau Cerna...
Mar’ah ... Mar’ah, sampai dimana sih aku harus berbalap dengan waktu untuk berhenti mengingatmu.. apakah sebaliknya?
Mungkin tidak kali’ yaaa... dunia kini mungkin bukan balik membalik... haaa konyol ini semua,,,
Apakah sebaliknya? Mungkin juga ada dalam benakmu pertanyaan itu... yeeaahh kurang tahu juga sih ... haaa haaa
Ku tutup tulisan ini dengan ucapan nada dari hati “Apakah sebaliknya?

Rabu, 18 Juni 2014, 00:40

Dengan sendiri...

Tanpa Judul

Kemarin tanggal 20 Maret 2015 aku benar-benar marah pada salah satu sahabatku. Karena dengan beraninya dia memegang dan menarik tangan rahasia hidupku di depan kantor prodi filsafat agama. Karena selama perjumpaanku dengannya aku masih belum berani memegang tangannya. Pernah suatu ketika aku tidak sengaja memegang tangannya, dengan spontan ia berucap astagfirullah.
Dari sini aku mulai belajar untuk tidak menyentuhnya. Dia suci bagiku. Tak ada duanya, dan biarlah orang berkata apa. Dan biarlah Armada bekata “mau dibawa kemana?”.
Tepat setelah sahabatku melepaskan tangannya, aku berkata “tolong jangan seperti itu, karena aku saja masih belum pernah memegangnya.


19 Maret 2015, jam 08:23, SMS.
Dia: Sampean dimana?
Saya: dikelas, kajian teks islam, kenapa?
Dia: mau ketemu.
Saya: sampean dimana?
Dia: dikontrakan.
Saya: wong masih dikontrakan.
Dia: hehehe, kan memastikan toh. Bapaknya ada ya?
Saya: ada. Sampean, saya selalu pagi dikampus. Hehehe
Dia: hehehe, enggeh.

19 Maret 2015, jam 13:45, SMS.
Saya: Mar’ah sudah ngubungi Yuli?
Dia: sampun. sampean ae kesini.
Saya: kemana? Di HMJ yoook?
Dia: dikelas aja is, tak tunggu dikelas yang tadi.
Saya: lebih enak di HMJ.
Dia: gak mau. Dikelas yang tadi.
Saya: saya makan dulu nggeh...
Dia: cepat ya.
Dia: masih lamakah?
Saya: sampean dimana sekarang?
Dia: kelas.
Saya: sama siapa?
Dia: Najma.
Saya: ok. Ne wudah selesai.
Dia: berapa menit lagi.
Saya: 5 menit. Beneran.
Dia: sudah dua orang yang mendaftar is.
Saya: siapa saja nama yang sudah nyetor?
...........***gak dibales***......
Kalau saya amati SMS-nya. Dia selalu cuek. Entah kenapa. Masih ku simpan di gudang tanda tanya.!!

19 Maret 2015
Aku menemuinya di kelas lantai tiga. Berawal dengan bicara soal lomba. Hingga akhirnya aku jadikan kesempatan untuk bertanya “apakah dia sekarang sudah dengan orang lain”.
Ku panggil dia dari tempat duduknya dengan Najma dalam keadaan sedang menonton film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”.  Pada awalnya dia tidak mau, namun aku coba dan paksa dia untuk duduk di depanku. Dan akhirnya aku mulai bertanya.
Mar’ah, sampean sudah punya kekasih?
Hehehe, sahutnya dengan senyum tanpa kecamata.
Aku serius, sungguh saat ini aku tidak bercanda.
Mboten (tidak), sahutnya.

Ya sudah, saya pergi dulu. Sampai nanti.

Bagian II

Bagian ini, hanya ku lukiskan kisah, dimana dia sudah tiada respon apa-apa. Namun aku lah yang ada.
Malam itu,
Assalamualaikum sebagai awal percakapan dalam SMS-ku padanya.
Waalaikum salam, bisakah ada yang bisa saya bantu? Balasannya. Ku rasa SMS ini cuek, namun Ku bingkai dengan warna yang berbunga. Karena senyumnya terus terbayang tatkala aku diam. Walau dalam hati aku selalu berkata “aku tak akan memilikinya”.
Hemz,... tidak ada, hanya ada satu hal yang ingin saya katakan, saya rindu senyum sampean. (Hee..) balasnya. Namun tak ku lanjut sms itu, kecewa rasanya, begitu juga aku merasa bahwa aku tetap tak pantas untuknya.
Memang hari-hari ini dia selalu menghindar dari kata-kataku, ku yakini itu mungkin trauma akan sejarah silam. Ya, sudahlah.. menyerah rasanya, namun mengapa aku masih mengharapkannya. Tapi tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Tertawaku sejenak.
*******
Pagi itu,
Tak seperti biasanya, dia tampak memalingkan wajahnya. Entah mengapa? Untuk menghindari akan hal itu, aku titipkan kata hatiku pada kekosongan, yang tak terucap apa lagi terurai. Gundah gulana sejak itu, bisik hatiku berkata bahwa ini adalah karma. Lanjut bertanya aku pada diriku, mengapa aku percaya (karma)? Namun diriku tak menolak akan hal itu, bahwa salahku tidak akan termaafkan padanya.
Sebenarnya, aku berkeinginan sekali untuk berbicara empat mata, untuk ku katakan maaf padanya. Karna, selama ini aku selalu terbayang wajahnya, dan ini adalah karma. Namun tak sempat keinginan itu terkabul.
Biasa, biasa dan biasa saja hari-hari yang sedemikian dituntut untuk meminta kata maaf padanya. Yaa Allah, Aku bersalah besar padanya” kata yang selalu bersenandung dalam hatiku.
*******
Malam sunyi, namun tak lepas sedikitpun bayangnya. Bukan berlebihan namun itulah kenyataannya.
Sedang apa dan mengapa ia disana? Pertanyaan setan gentayangan muncul. Namun tak takut akan kedatangannya. Malah membuatku senang.
Mar’ah-mar’ah, kenapa aku bisa begini dan begitu. Karma, mungkinkah ini. dulu kau yang menghampiri, kini ku gelisah tiada henti sebaliknya. Apa sebenarnya yang kau pinta pada Tuhan, hingga buat ku begini. Mungkinkah balasan yang setimpal untuk ku. Walau haru-hari ini kau berpaling dari semua senyumku.
Pernah ku tanya pada sehabatmu, si Puput, “Put, masihkah ada rasa dalam dirinya untuk-ku, walau setetes pun?” aku sudah tidak bisa menebaknya, karena selama ini yang aku tahu, kau telah tancapkan luka hingga ia kecewa, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi mengingatmu, sakit katanya.
Hemzz... senyumku padanya. Mengapa sedemikian?
Entahlah, aku rasa ia sangat kecewa. Karena selama ini harapannya sirna begitu saja.
Ya aku tahu itu,..
Mengapa kau tak katakan saja yang sebenarnya?

Entahlah, fikirku panjang untuk menyatakan kebenaran hati ini, dan akhir dari kesimpulan itu, ku tancapkan dalam hati, bahwa keinginan ku tuk memilikinya hanya dalam bayang dan mimpi ku saja, bukan tak mau dalam dunia nyata, melainkan ada satu hal yang tak dapat aku pungkiri selama ini, bahwa aku tak ingin memilikinya jika nantinya hanya membuat luka. Itu saja, tiada yang lain, karena dia begitu indah bagiku, dan tak pernah ku temukan yang lain selama pengembaraannku. Hanya dia.

Rabu, 13 Mei 2015

Mengapa?

Zarathustra, mungkin sampean pernah mendengar nama ini. Nama seorang yang didambakan oleh filsuf asal Jerman, Friedrich W. Nietsche yang tidak suka dengan pertanyaan "mengapa?". Tapi saya menyukainya dan mencintainya. Tahu mengapa? Karena dengan bertanya mengapa akan mendapat jawaban yang tidak gampang dan inilah yang juga saya sukai. Kepala saya seringkali mengalami rasa sakit akibat membuat sebuah persoalan dan kebingungan yang amat sangat sulit dimana nantinya jawaban dari pertanyaan itu saya merasakan kepuasan yang cukup dan tidak puas. Mungkin ini sedikit pengantar untuk bait-bait cintaku setelah ini. Bagi saya, dimana ada cinta, disana ada filsafat.

****

Ada seorang teman bertanya pada saya, "mengapa" kau tak nyatakan padanya? Saya hanya tersenyum padanya. Selanjutnya dia bertanya, "mengapa" tersenyum? Saya memulai menjawabnya, ada satu hal yang membuat saya khawatir dalam hidup ini. Pertama, jika saya nyatakan perasaan ini, maka yang terjadi adalah "iya dan tidak" mungkin darinya. Karena jika "iya", saya hanya takut nantinya membuat dirinya sakit walaupun tak pernah terbesit dalam pikirku untuk menyakitinya. Sejalan dengan filsafat Jeremy Bentham bahwa dunia ini terisi sedih dan bahagia. Kedua, dia bagiku terlalu suci, anggun nan indah membuat saya masih belum sanggup untuk menyatakannya. Lantas teman saya bertanya lagi, terus apa usaha kamu untuk dia? Saya awali dengan senyum dan pernyataan "rumah kesunyianku selalu menghadiahkan hadir wajahnya, bercakap dan berdialog dengannya.
Setetes air mata seorang lelaki mungkin sebagian orang akan berkata “dia cengeng”, namun berbalik dan berbeda bagi saya, bahwa setetes air mata disaat mengingat dan menjumpainya dirumah kesepian adalah kebahagiaan tersendiri.
Mohammad Ishak Maulana

You and Me

I Love You

Mungkin "i love you" inilah yang ada dalam hatiku tatkala pertama kali bertemu dengan sampean diruangan B.102 yang diawali dengan bersaling tukar nomor hanphone. Namun, entahlah aku tak pernah menghiraukan "iya atau tidak" yang ada dalam hati sampean itu sendiri.
Sepanjang perjalanan waktu itu, rasa itu masih ada dan terus berevolusi setiap detiknya. Mungkin sampean tidak akan percaya akan hal ini, karena saya juga tahu kejadian yang mungkin membuat sampean kecewa terhadap seorang saya adalah hadirnya sosok wanita dari Probolinggo tatkala itu. Memang betul dia mencintai saya, tapi hati dan jiwa saya selalu untuk sampean.
Setiap malam saya selalu menghadirkan wajah sampean yang manis itu disela sepiku. Karena aku memang suka terhadap kesepian dan kesunyiaan, dan bahkan saya sempat mengiyakan apa yang Nietzsche tulis dalam bukunya bahwa "kesepian dan kesunyian adalah rumahku". Maka disanalah saya selalu menghadirkan wajahmu dan kelembutan tutur bicaramu. Disisi lain, aku tak pernah meluangkan disetiap bayangan bahwa "saya dan sampean" terjadi dialog disana.
Mungkin sejauh ini sampean tak pernah tahu sebesar apa cinta saya pada sampean. Dan juga saya akui bahwa besarnya cinta itu hanya akan tampak seserpih saja. Ocehan dan lantunan tentang kita yang digemakan oleh teman-teman kelas mungkin hanyalah seserpih dari besarnya cinta itu sendiri.
Blog ini saya buat, bukan untuk pamer, bukan untuk sombong, bukan untuk gombal-gembel dan apalah yang mungkin membuat sampean tak percaya saya. Namun blog ini saya buat atas hadirnya sosok sampean yang selalu memberikan arah gerakan baru dalam hidup saya.
Mar'atus Sholikhah, jiwamu melebihi namamu. Itu bagiku. Selamanya akan selalu aku kenang. Ini bukan kata-kata yang berlebihan dan sekali lagi bukan, melainkan inilah kenyataan. Jika sampean pernah baca bukunya Bryan Magee disana ada sebuah kata yang tertulis bahwa kebenaran itu ada dua, yaitu kebenaran nalar dan fakta. Sedangkan kebenaran yang ada dalam diri saya untuk sampean adalah kebenaran dua-duanya dan bahkan melebihinya.
Mar’ah, jika saya tidak dapat memelukmu dengan tubuh ini, maka, tatapan inilah yang hanya bisa memeluk sampean.

Mohammad Ishak Maulana