Sabtu, 13 Oktober 2018

Cara daftar PIVOT


💰Read the post to get BTC Bonus: shared from @Pivot https://www.pivot.one/share/post/5bb2e1b402b8753c7355372d?uid=5ba4ad766c20cd1e014dc66a&invite_code=COVRMB


Senin, 18 Juni 2018

Antara: Ketakutan dan Keikhlasan



Tuhan menciptakan penyesalan itu di akhir bukan untuk bermaksud jahat pada hambanya. Melainkan sebuah peringatan/mewanti-wanti agar hambanya senantiasa berhati-hati, berpikir positif, dan bertindak sesuai dengan jalannya. Sungguh bukan sebuah hal negatif. Karena apa pun ciptaannya, tentu ada manfaatnya.
Bertahun demi tahun sudah berlalu, saya dan sampean mengarungi hubungan yang tidak jelas di sisi Allah. Walaupun, arah, tujuan, cita-cita dan harapan telah kita rangkai bersama. Tak lain jika saya pikir dan rasakan hari ini adalah hal itu semua untuk masa yang akan datang. Suatu masa yang masih belum tentu akan kita ketahui dan nikmati bagaimana jadinya.
Dan hingga kini pun.
Dalam hidup, yang menjadi pelengkap adalah perubahan. Perubahan adalah darah daging setiap hamba Tuhan. Perubahan tak pernah melepaskan dirinya. Melekat bagai darah yang akan terus menjadi bagian dari hidup. Karena tanpa perubahan, apalah arti kemenjadian setiap insan. Karena tanpa perubahan, apalah jadinya dunia tanpa perputaran (waktu) yang terus berjalan.
Seyakin-yakinnya seorang insan akan harapan dan cita-citanya, tentu akan dihadapkan pada sebuah permasalahan yang mungkin belum direncanakan. Jikalaupun itu direncanakan untuk di antisipasi kedatangannya, baik dengan solusi dan jalan lain untuk menyikapinya. Perlu kita ingat, bahwa masa yang akan datang tidak akan pernah memberitahu kita apa yang akan ia hadiahkan atas impian dan harapan diwaktu yang silam.
Sembari, ketika hadiah masa depan disajikan, terkadang kita enggan, emosi, dan bahkan pesimis untuk menerimanya. Lantas apa masalahnya?
Satu hal mungkin yang saya temukan, yaitu: kita sebagai hamba kurang siap dan konsisten untuk menerimanya dengan setangguh harapan yang diharap-harapkan.
Akhirnya, kesedihan pun muncul. Galau tak karuan. Bahkan bisa berkepanjangan. Siang dan malam. Padahal sebenarnya kita tahu bahwa kesedihan yang berkepanjangan itu tidak akan menyelesaikan sekelumitpun permasalahan.
Maka solusinya, (walau hanya sekedar solusi) kita harus menanamkan kesiapan dan ketangguhan dalam diri. Karena tak ada yang tahu, kebaikan dan kesuksesan itu justru diawali dengan kepedihan. Begitu juga kesuksesan!
.................
Setiap orang, setiap orang, dan sekali lagi setiap orang punya hak untuk bermimpi, berharap, bercita-cita. Akan tetapi, merasa telah memiliki bukanlah hal yang benar. Karena hanya merasa.
Setiap orang, setiap orang, dan sekali lagi setiap orang yang merasa berbuat apapun untuk harapan-harapannya. Lagi-lagi hanya merasa.
Jadi, tak perlu terlalu dalam untuk menangisi dan menyesali apapun yang belum dikabulkan.
Karena, kemungkinan besar hal itu tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Sebaliknya, jika hal itu ditakdirkan, pasti, pasti dan pasti tak kemana. Cepat atau lambat akan menjadi hak milik kita.
......................
Semoga tulisan ini menjadi sesuatu yang ajaib. Apapun keajaibannya.
Mar’ah, perjuangan sampean lebih besar daripada saya.
Maafkan atas semua kesalahan-kesalahan saya.
Mar’ah tetep istimewa di hati saya.



I Love You so Much

Kamis, 06 Agustus 2015

Enggeh

Ketika tangan tanpa senjata dan kepala tanpa baja, “Insya Allah” menjadi jawaban terbaik sebagai bentuk kesiapan menerima sebuah kesimpulan dari harapan yang sekian lamanya dibangun penuh serak dan seok-seok nafas menahan rintih terdalam.

Ternyata baru hari ini eksistensi dari renungan dan penghayatan panjang menampakkan dirinya bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dipojok dan ketakutan. Menerima sebuah hasil dengan wajah menunduk dan malu.

Ah, inilah jawabannya!

Kuatnya belenggu harapan yang mengikat eksistensi, ah itu soal biasa yang menjadi luar biasa. Kepingan bangunan runtuh sedikit demi sedikit karena tak sesuai dengan kenyataan seperti hujan salju yang putih bersih tetapi lupa bahwa bisa merisaukan dan bahkan membunuh.

Memang tidak salah jika dunia ini penuh dengan metafor. Manusia hanya di dirayu oleh imaji yang berjelajah seolah-olah itulah masa depan tanpa kepingan cacat. Sederhananya adalah roda sepeda depan dan belakang yang berada dalam satu-kesatuan (dunia) namun tidak pernah bisa bersatu dan bersentuhan, sebagai analogi.

Harapan-harapan tertawa tanpa rupa menyeret eksistensi yang mempunyai niat suci berteriak di dalam ruang gelap malu akan sinar matahari. Diam tanpa gerak ditimbun oleh harapannya sendiri yang tak tercapai.

Ah, inilah jawabannya!

Sekali lagi, inilah jawabannya!

06 Agustus 2015

Sabtu, 20 Juni 2015

Si gadis ber-kacamata...


 “Dalam cinta, seringkali kebungkaman lebih berlaku daripada percakapan”
Blaise Pascal

Jauh hari sebelumnya, ada rasa yang tidak pernah diminta dan disetujui sebelumnya akan hadir sebuah rasa yang tidak pernah disangka-sangka merasuki jiwa yang tak tahu apa dan bagaimana jika diungkapan dengan kata-katanya.
Si gadis berkacamata, disetiap hari-harinya, wajahnya selalu tersenyum dan seraya tak pernah menyiratkan corak duka. Ooohh... Dia sungguh istimewa. Bahkan aku berkata dan pernah berpesan padanya “Hei si gadis ber-kacamata, maukah kau dengar saranku?, apa jawabnya. Ingatlah hari esok, dan simpanlah senyummu untuk esok lagi.”
*****
Jauh hari sebelumnya, aku tak tahu apa lah namanya, entah takdir atau apa. Yang ada dalam benakku hanya apa dan bertanya ini apa?.
Dan entah apalah namanya, pertemuan itu mampu menghadirkan dunia bayang-bayang, angan-angan dan intuisi yang menyibukkan diri untuk menghibur dengan gambaran-gambaran senyumnya. Sehingga kata-kata mudah tercipta bagaikan kilat menyambar otak dan akal, yaitu dengan serentak tanpa basa-basi.
Namun, dan akhirnya Aku teringat sebuah kata-kata dari filsuf bernama Rousseau, yaitu “tak ada yang begitu amat mengena dihati selain rasa manis yang muncul ....”.
Si gadis ber-kacamata, senyumnya memang menggoda. Aku tak bisa meng-interpretasikan dan menyamakannya dengan segala pengalamanku. Disisi lain, Aku merasakan sebagaimana ungkapan Heidegger, “Jameinigkeit [1].
Namun, aneh kiranya ketika Aku sendiri merenungkannya kembali, bahwa aku lebih banyak diam daripada berbicara soal rasa dari gambaran-gambaran yang selama ini menjadi pengganggu. Karena, Aku percaya dengan ucapan Blaise Pascal, bahwa  “Dalam cinta, seringkali kebungkaman lebih berlaku daripada percakapan”.
Hingga hari ini pun Aku menutup diri untuk bercakap apa yang telah terungkap terlebih dahulu dalam diri. Alasannya sangat sederhana, yaitu selama ini Aku tak sadarkan diri dan hanya menggunakan sebuah pendekatan “dari obyek ke subyek” yaitu sebuah bangunan filosofis dari Epicurus dengan mengandalkan pengalaman dan indera dan tanpa pikir panjang. Dan Aku sadar hari ini bahwa bangunan filosofis dari Husserl kiranya mampu mengungkapkan apa yang selama ini menampakkan diri pada diriku.
Sebuah kutipan dari Husserl adalah “membiarkan apa yang memperlihatkan diri itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”. Sedangkan jargon atau semboyannya adalah “Zuruck zu den Sachen selbst[2].
Artinya apa? Aku tidak pernah menghadirkan dia nampak sebagai fenomena dan tidak pernah terjamah oleh interpretasi apa pun, dan walaupun nantinya aku juga melakukan sebuah interpretasi untuknya.



[1] Jerman: dalam setiap hal khas milikku.
[2] Kembali kepada benda-benda itu sendiri.


Si gadis berkacamata...


Sekedar basa-basi untuk mengawali tulisan ini, saya mencoba menghadirkan sosok figur yang masih dijadikan kajian tentang  kefilsafatan, yaitu Epicurus. Mungkin dan kiranya semua tahu tentang teori “dari obyek ke subyek” yang merupakan sebuah bangunan filosofis dari Epicurus itu sendiri. Dia menyatakan bahwa obyek adalah film, image dan sejenisnya yang menampakkan diri pada kita dengan berbagai sisinya. Selain itu, saya juga mencoba menghadirkan sebuah kutipan dari Husserl “membiarkan apa yang memperlihatkan diri itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”.
*****
Si gadis berkacamata, jauh hari sebelumnya menampakkan dirinya di depan mata yang masih kosong akan sosok dan makna. Apa dan siapa menjadi jin dan setan yang berjanji menggoda manusia.
Entah takdir atau apa lah namanya, pertemuan dan keakraban terjalin lewat sebuah tugas kelompok yang diberikan oleh salah seorang dosen.

Dan entah apalah namanya, pertemuan itu mampu menghadirkan dunia bayang-bayang, angan-angan dan intuisi yang menyibukkan diri untuk menghibur dengan gambaran-gamaran senyumnya. Sehingga kata-kata mudah tercipta bagaikan kilat menyambar otak dan akal, yaitu dengan serentak tanpa basa-basi. 


Puncak, mungkin inilah yang dikatakan sebagai puncak. Sebuah rasa yang memuncak dan tak sanggup lagi untuk ditahan. Walaupun ada banyak solusi dan masukan dari orang-orang. Namun tetap tak ku pedulikan. Karena aku memang benar-benar sayang disaat berdua dan tanpanya.
Sempat kemaren dia mengirim pesan (kurang lebih) “aku khawatir dan takut selama ini, yaitu takut jika sampean suka sama saya karena ibadah saya, karena kecantikan saya dll”. Ku tepis pernyataan itu dengan, bahwa aku mencintainya tanpa syarat yang mengikat, maka dari itu inilah yang ku sebut dengan kesempurnaan sejati”. Begitu juga, ada yang tak kusampaikan padanya, yaitu aku merasa nyaman disaat dekat dengannya.

Apalah arti seorang saya

21 Juni ’15- 01:40
“Engkau memang patut saya perjuangkan, walau banyak rintangan. Karena inilah yang disebut  dengan pilihan.”

21 Juni 2015