Tuhan menciptakan
penyesalan itu di akhir bukan untuk bermaksud jahat pada hambanya. Melainkan sebuah
peringatan/mewanti-wanti agar hambanya senantiasa berhati-hati, berpikir
positif, dan bertindak sesuai dengan jalannya. Sungguh bukan sebuah hal
negatif. Karena apa pun ciptaannya, tentu ada manfaatnya.
Bertahun demi tahun sudah
berlalu, saya dan sampean mengarungi hubungan yang tidak jelas di sisi Allah. Walaupun,
arah, tujuan, cita-cita dan harapan telah kita rangkai bersama. Tak lain jika
saya pikir dan rasakan hari ini adalah hal itu semua untuk masa yang akan
datang. Suatu masa yang masih belum tentu akan kita ketahui dan nikmati
bagaimana jadinya.
Dan hingga kini pun.
Dalam hidup, yang menjadi
pelengkap adalah perubahan. Perubahan adalah darah daging setiap hamba Tuhan. Perubahan
tak pernah melepaskan dirinya. Melekat bagai darah yang akan terus menjadi
bagian dari hidup. Karena tanpa perubahan, apalah arti kemenjadian setiap
insan. Karena tanpa perubahan, apalah jadinya dunia tanpa perputaran (waktu)
yang terus berjalan.
Seyakin-yakinnya seorang
insan akan harapan dan cita-citanya, tentu akan dihadapkan pada sebuah
permasalahan yang mungkin belum direncanakan. Jikalaupun itu direncanakan untuk
di antisipasi kedatangannya, baik dengan solusi dan jalan lain untuk
menyikapinya. Perlu kita ingat, bahwa masa yang akan datang tidak akan pernah
memberitahu kita apa yang akan ia hadiahkan atas impian dan harapan diwaktu
yang silam.
Sembari, ketika hadiah
masa depan disajikan, terkadang kita enggan, emosi, dan bahkan pesimis untuk
menerimanya. Lantas apa masalahnya?
Satu hal mungkin yang saya
temukan, yaitu: kita sebagai hamba kurang siap dan konsisten untuk menerimanya
dengan setangguh harapan yang diharap-harapkan.
Akhirnya, kesedihan pun
muncul. Galau tak karuan. Bahkan bisa berkepanjangan. Siang dan malam. Padahal sebenarnya
kita tahu bahwa kesedihan yang berkepanjangan itu tidak akan menyelesaikan
sekelumitpun permasalahan.
Maka solusinya, (walau
hanya sekedar solusi) kita harus menanamkan kesiapan dan ketangguhan dalam diri.
Karena tak ada yang tahu, kebaikan dan kesuksesan itu justru diawali dengan kepedihan.
Begitu juga kesuksesan!
.................
Setiap orang, setiap
orang, dan sekali lagi setiap orang punya hak untuk bermimpi, berharap,
bercita-cita. Akan tetapi, merasa telah memiliki bukanlah hal yang benar. Karena
hanya merasa.
Setiap orang, setiap
orang, dan sekali lagi setiap orang yang merasa berbuat apapun untuk
harapan-harapannya. Lagi-lagi hanya merasa.
Jadi, tak perlu terlalu
dalam untuk menangisi dan menyesali apapun yang belum dikabulkan.
Karena, kemungkinan besar
hal itu tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Sebaliknya, jika hal itu
ditakdirkan, pasti, pasti dan pasti tak kemana. Cepat atau lambat akan menjadi
hak milik kita.
......................
Semoga tulisan ini menjadi
sesuatu yang ajaib. Apapun keajaibannya.
Mar’ah, perjuangan sampean
lebih besar daripada saya.
Maafkan atas semua
kesalahan-kesalahan saya.
Mar’ah tetep istimewa di hati saya.
I Love You so Much
