Sabtu, 20 Juni 2015

Si gadis ber-kacamata...


 “Dalam cinta, seringkali kebungkaman lebih berlaku daripada percakapan”
Blaise Pascal

Jauh hari sebelumnya, ada rasa yang tidak pernah diminta dan disetujui sebelumnya akan hadir sebuah rasa yang tidak pernah disangka-sangka merasuki jiwa yang tak tahu apa dan bagaimana jika diungkapan dengan kata-katanya.
Si gadis berkacamata, disetiap hari-harinya, wajahnya selalu tersenyum dan seraya tak pernah menyiratkan corak duka. Ooohh... Dia sungguh istimewa. Bahkan aku berkata dan pernah berpesan padanya “Hei si gadis ber-kacamata, maukah kau dengar saranku?, apa jawabnya. Ingatlah hari esok, dan simpanlah senyummu untuk esok lagi.”
*****
Jauh hari sebelumnya, aku tak tahu apa lah namanya, entah takdir atau apa. Yang ada dalam benakku hanya apa dan bertanya ini apa?.
Dan entah apalah namanya, pertemuan itu mampu menghadirkan dunia bayang-bayang, angan-angan dan intuisi yang menyibukkan diri untuk menghibur dengan gambaran-gambaran senyumnya. Sehingga kata-kata mudah tercipta bagaikan kilat menyambar otak dan akal, yaitu dengan serentak tanpa basa-basi.
Namun, dan akhirnya Aku teringat sebuah kata-kata dari filsuf bernama Rousseau, yaitu “tak ada yang begitu amat mengena dihati selain rasa manis yang muncul ....”.
Si gadis ber-kacamata, senyumnya memang menggoda. Aku tak bisa meng-interpretasikan dan menyamakannya dengan segala pengalamanku. Disisi lain, Aku merasakan sebagaimana ungkapan Heidegger, “Jameinigkeit [1].
Namun, aneh kiranya ketika Aku sendiri merenungkannya kembali, bahwa aku lebih banyak diam daripada berbicara soal rasa dari gambaran-gambaran yang selama ini menjadi pengganggu. Karena, Aku percaya dengan ucapan Blaise Pascal, bahwa  “Dalam cinta, seringkali kebungkaman lebih berlaku daripada percakapan”.
Hingga hari ini pun Aku menutup diri untuk bercakap apa yang telah terungkap terlebih dahulu dalam diri. Alasannya sangat sederhana, yaitu selama ini Aku tak sadarkan diri dan hanya menggunakan sebuah pendekatan “dari obyek ke subyek” yaitu sebuah bangunan filosofis dari Epicurus dengan mengandalkan pengalaman dan indera dan tanpa pikir panjang. Dan Aku sadar hari ini bahwa bangunan filosofis dari Husserl kiranya mampu mengungkapkan apa yang selama ini menampakkan diri pada diriku.
Sebuah kutipan dari Husserl adalah “membiarkan apa yang memperlihatkan diri itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”. Sedangkan jargon atau semboyannya adalah “Zuruck zu den Sachen selbst[2].
Artinya apa? Aku tidak pernah menghadirkan dia nampak sebagai fenomena dan tidak pernah terjamah oleh interpretasi apa pun, dan walaupun nantinya aku juga melakukan sebuah interpretasi untuknya.



[1] Jerman: dalam setiap hal khas milikku.
[2] Kembali kepada benda-benda itu sendiri.


Si gadis berkacamata...


Sekedar basa-basi untuk mengawali tulisan ini, saya mencoba menghadirkan sosok figur yang masih dijadikan kajian tentang  kefilsafatan, yaitu Epicurus. Mungkin dan kiranya semua tahu tentang teori “dari obyek ke subyek” yang merupakan sebuah bangunan filosofis dari Epicurus itu sendiri. Dia menyatakan bahwa obyek adalah film, image dan sejenisnya yang menampakkan diri pada kita dengan berbagai sisinya. Selain itu, saya juga mencoba menghadirkan sebuah kutipan dari Husserl “membiarkan apa yang memperlihatkan diri itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”.
*****
Si gadis berkacamata, jauh hari sebelumnya menampakkan dirinya di depan mata yang masih kosong akan sosok dan makna. Apa dan siapa menjadi jin dan setan yang berjanji menggoda manusia.
Entah takdir atau apa lah namanya, pertemuan dan keakraban terjalin lewat sebuah tugas kelompok yang diberikan oleh salah seorang dosen.

Dan entah apalah namanya, pertemuan itu mampu menghadirkan dunia bayang-bayang, angan-angan dan intuisi yang menyibukkan diri untuk menghibur dengan gambaran-gamaran senyumnya. Sehingga kata-kata mudah tercipta bagaikan kilat menyambar otak dan akal, yaitu dengan serentak tanpa basa-basi. 


Puncak, mungkin inilah yang dikatakan sebagai puncak. Sebuah rasa yang memuncak dan tak sanggup lagi untuk ditahan. Walaupun ada banyak solusi dan masukan dari orang-orang. Namun tetap tak ku pedulikan. Karena aku memang benar-benar sayang disaat berdua dan tanpanya.
Sempat kemaren dia mengirim pesan (kurang lebih) “aku khawatir dan takut selama ini, yaitu takut jika sampean suka sama saya karena ibadah saya, karena kecantikan saya dll”. Ku tepis pernyataan itu dengan, bahwa aku mencintainya tanpa syarat yang mengikat, maka dari itu inilah yang ku sebut dengan kesempurnaan sejati”. Begitu juga, ada yang tak kusampaikan padanya, yaitu aku merasa nyaman disaat dekat dengannya.

Apalah arti seorang saya

21 Juni ’15- 01:40
“Engkau memang patut saya perjuangkan, walau banyak rintangan. Karena inilah yang disebut  dengan pilihan.”

21 Juni 2015

Apalah ini?

Kini dan hari ini aku bertanya-tanya siapa Aku? Hingga mampu diluluh lantahkan olehmu begitu dalam kesela-sela “ke-Aku-an-Ku”. Padahal tak terbesit sebelumnya dalam benak dan pikir ku akan terjadi. Mungkin inilah suratan atau yang digariskan oleh Kuasa Super alam.
Mar’ah, apalah arti seorang saya yang hanya punya harapan namun tak punya bekal untuk memberimu pengalaman dan kenyamanan. Berbeda dengan dia hingga engkau sangat menyayanginya. Bahkan itu juga yang tak pernah Aku pikirkan. Dan mungkin Aku orang yang kejam karena tidak mengungkapkan dulu kala. Namun tidak, bukan aku yang kejam. Aku tidak kejam, namun akulah imbas dari kekejamanmu yang begitu dalam.
Malam itu, sekitar jam tiga lebih, Aku mengemis dan meminta dikasihani serta mengharap secuil cintamu padaku. Namun tak ada yang aku dapatkan selain kau suruh “jaga cinta itu dan rawat dengan baik-baik”. Begitu juga kekhawatiranmu yang begitu besar takut akan “cinta itu hanya bersifat sesaat saja”. Tidak dan tidak Mar’ah. Cinta itu aku bangun sudah lama dan aku yakin melebihi cintanya dia padamu. Hanya saja aku menyikapinya dengan diam. Karena itu proses bagiku. Lantas, yang aku dapati hari ini hanyalah kekosongan dari sebuah perjuangan yang telah lama dibangun kokoh dan misteri. Hingga akhirnya terungkap juga dan yang ada hanyalah senyum tanpa ada respon dari perjuangan itu.
Malam itu aku masih yakin bahwa cinta itu abadi begitu pula cinta-Ku padamu, walau takdir tak selalu pasti. Walau engkau masih misteri.
Cukup sakit yang aku rasakan malam itu, karena engkau telah meruntuhkan segenap pucuk pengharapanku. Kau lantarkan pemuda ini kesimpang jalan derita cinta. Kau lantarkan pemuda ini merintih. Kau pula yang telah menelantarkan niat pemuda ini salah arah.
Kini aku sadar dan pasrah dengan segenap permintaanmu untuk menjaga cinta suci-Ku itu. Kau yang meminta, akan aku penuhi. Namun hari ini, akan ku perbaiki semua niat dan pikir-Ku untuk menebus semua harapan masa laluku. Karena lewat pengalaman ini, aku sadar, aku tersentuh dan tersentak untuk lebih bangkit walaupun itu masih sangat berat dan pahit.

 19 Juni 2014