“Dalam cinta, seringkali kebungkaman lebih berlaku daripada percakapan”
Blaise Pascal
Jauh hari sebelumnya, ada rasa yang tidak pernah diminta dan disetujui
sebelumnya akan hadir sebuah rasa yang tidak pernah disangka-sangka merasuki
jiwa yang tak tahu apa dan bagaimana jika diungkapan dengan kata-katanya.
Si gadis berkacamata, disetiap hari-harinya, wajahnya selalu tersenyum dan
seraya tak pernah menyiratkan corak duka. Ooohh... Dia sungguh istimewa. Bahkan
aku berkata dan pernah berpesan padanya “Hei si gadis ber-kacamata, maukah kau
dengar saranku?, apa jawabnya. Ingatlah hari esok, dan simpanlah senyummu untuk
esok lagi.”
*****
Jauh hari sebelumnya, aku tak tahu apa lah namanya, entah takdir atau apa.
Yang ada dalam benakku hanya apa dan bertanya ini apa?.
Dan entah apalah namanya, pertemuan itu mampu menghadirkan dunia
bayang-bayang, angan-angan dan intuisi yang menyibukkan diri untuk menghibur
dengan gambaran-gambaran senyumnya. Sehingga kata-kata mudah tercipta bagaikan
kilat menyambar otak dan akal, yaitu dengan serentak tanpa basa-basi.
Namun, dan akhirnya Aku teringat sebuah kata-kata dari filsuf bernama
Rousseau, yaitu “tak ada yang begitu amat mengena dihati selain rasa manis yang
muncul ....”.
Si gadis ber-kacamata, senyumnya memang menggoda. Aku tak bisa
meng-interpretasikan dan menyamakannya dengan segala pengalamanku. Disisi lain,
Aku merasakan sebagaimana ungkapan Heidegger, “Jameinigkeit” [1].
Namun, aneh kiranya ketika Aku sendiri merenungkannya kembali, bahwa aku
lebih banyak diam daripada berbicara soal rasa dari gambaran-gambaran yang
selama ini menjadi pengganggu. Karena, Aku percaya dengan ucapan Blaise Pascal,
bahwa “Dalam cinta, seringkali kebungkaman lebih berlaku daripada
percakapan”.
Hingga hari ini pun Aku menutup diri untuk bercakap apa yang telah
terungkap terlebih dahulu dalam diri. Alasannya sangat sederhana, yaitu selama
ini Aku tak sadarkan diri dan hanya menggunakan sebuah pendekatan “dari obyek
ke subyek” yaitu sebuah bangunan filosofis dari Epicurus dengan mengandalkan
pengalaman dan indera dan tanpa pikir panjang. Dan Aku sadar hari ini bahwa
bangunan filosofis dari Husserl kiranya mampu mengungkapkan apa yang selama ini
menampakkan diri pada diriku.
Sebuah kutipan dari Husserl adalah “membiarkan apa yang memperlihatkan diri
itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara memperlihatkan diri dari dirinya
sendiri”. Sedangkan jargon atau semboyannya adalah “Zuruck zu den Sachen
selbst”[2].
Artinya apa? Aku tidak pernah menghadirkan dia nampak sebagai fenomena dan
tidak pernah terjamah oleh interpretasi apa pun, dan walaupun nantinya aku juga
melakukan sebuah interpretasi untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar