Mar’atus Sholihah itulah namanya. Sang wanita solihah yang
sangat aku bangga semenjak aku mengenalnya. Senyum manisnya, itulah yang
membuat-Ku tak tahan terhadapnya. Ya mau bagaimana lagi, ikatan resmi tetap tak
terjalin. Namun aku sangat yakin bahwa ikatan batin begitu mengikat.
Lama sudah rasanya ikatan batin itu, hempasan angin dan goda
orang-orang sekelilingku tak mampu menggubris rasa kasih-Ku padanya. Memang
rasa itu tak Ku ungkap lewat kata yang hanya mampu ditangkap oleh indera.
Karena Aku sangat yakin, bahwa ungkapan rasa kasih tidak hanya dan harus dengan
berhadapan dan bertuliskan tinta di atas kertas. Semua itu sudah basi dan
terlalu klasik bagi Ku.
Walau, aku hanya mendapat senyumnya di pagi hari saat
kuliah. Aku sangat bahagia sekali, tanpa menyentuhnya pun. Dalam hati pun
berkata “mengapa demikian?” ah, entahlah pertanyaan itu hanya mengikis rasa
kasihku padanya.
Jujur aku tak peduli sama sekali, ia suka, ia cinta, ia
sayang dan bahkan ia menganggap ku apa pun atau tidak pun. Aku hanya
bermodalkan yakin seyakin mungkin, bahwa dalam hatinya menyimpan rasa padaku.
Walau hanya sebutir debu, atau sekasat mata bagai angin.
Pernah suatu ketika, saat ku ingat pertama kali masuk
perguruan tinggi, dimana aku tak kenal siapa-siapa. Namun, satu kelompok
dengannya merupakan awal dari semua rasa kasih ku padanya.
Dewasa ini mungkin ia sudah kecewa pada-Ku. Ku yakin itu.
Kecewa karena tak ku utarakan niat tulus ku ini padanya. Memang aku sengaja,
karena dibalik semua itu ada ke khawatiran besar dalam hidup-Ku.
“Jika ku ucap dan ungkap kata
cinta dan sayang di depannya. Lantas ia bahagia, karena momen itu. Aku pikir,
ini adalah awal luka yang di bingkai oleh bahagia. Mengapa demikian? Ia, dan
ia. Bingkai, aku tak mau, bingkai, aku tak suka dan bingkai, aku tak setuju
padanya. Karena bingkai akan meneteskan air duka. Sama sekali tak Ku suka dan
Ku ingin tetesan air duka”.
*******
04 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar