Rabu, 20 Mei 2015

History Love Me

Mar’atus Sholihah itulah namanya. Sang wanita solihah yang sangat aku bangga semenjak aku mengenalnya. Senyum manisnya, itulah yang membuat-Ku tak tahan terhadapnya. Ya mau bagaimana lagi, ikatan resmi tetap tak terjalin. Namun aku sangat yakin bahwa ikatan batin begitu mengikat.
Lama sudah rasanya ikatan batin itu, hempasan angin dan goda orang-orang sekelilingku tak mampu menggubris rasa kasih-Ku padanya. Memang rasa itu tak Ku ungkap lewat kata yang hanya mampu ditangkap oleh indera. Karena Aku sangat yakin, bahwa ungkapan rasa kasih tidak hanya dan harus dengan berhadapan dan bertuliskan tinta di atas kertas. Semua itu sudah basi dan terlalu klasik bagi Ku.
Walau, aku hanya mendapat senyumnya di pagi hari saat kuliah. Aku sangat bahagia sekali, tanpa menyentuhnya pun. Dalam hati pun berkata “mengapa demikian?” ah, entahlah pertanyaan itu hanya mengikis rasa kasihku padanya.
Jujur aku tak peduli sama sekali, ia suka, ia cinta, ia sayang dan bahkan ia menganggap ku apa pun atau tidak pun. Aku hanya bermodalkan yakin seyakin mungkin, bahwa dalam hatinya menyimpan rasa padaku. Walau hanya sebutir debu, atau sekasat mata bagai angin.
Pernah suatu ketika, saat ku ingat pertama kali masuk perguruan tinggi, dimana aku tak kenal siapa-siapa. Namun, satu kelompok dengannya merupakan awal dari semua rasa kasih ku padanya.
Dewasa ini mungkin ia sudah kecewa pada-Ku. Ku yakin itu. Kecewa karena tak ku utarakan niat tulus ku ini padanya. Memang aku sengaja, karena dibalik semua itu ada ke khawatiran besar dalam hidup-Ku.
“Jika ku ucap dan ungkap kata cinta dan sayang di depannya. Lantas ia bahagia, karena momen itu. Aku pikir, ini adalah awal luka yang di bingkai oleh bahagia. Mengapa demikian? Ia, dan ia. Bingkai, aku tak mau, bingkai, aku tak suka dan bingkai, aku tak setuju padanya. Karena bingkai akan meneteskan air duka. Sama sekali tak Ku suka dan Ku ingin tetesan air duka”.
*******

04 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar