Minggu, 24 Mei 2015

Belum Selsai

Minggu 0 Mei 2014
Novel Mini : Uraian Kisah-Kisah Silam
Lama sudah rasanya tak berjumpa dengan si Dia yang selalu mengganggu batin. Entah apa kiranya jika perjumpaan yang di iringi senyum manja mengikat itu terjadi kembali. Sunyi malam-malam tak lepasnya sosok wajah si Dia berkaca mata itu. Mungkin cap atau stempel dalam hatinya sudah tak lagi bisa dihapus. Namun apa kira jika siksa yang melanda hanya itu hanya dilampiasi oleh senyum-senyum tak jelas. Memang pagi itu sempat berbincang-bincang dengannya di suatu forum formal yang diadakan oleh pihak kemahasiswaan. Dengan nada sedikit samar aku memanggilnya.
            “Mar’ah, bisa kesini, saya mau ngobrol sebentar.
Senyumnya-pun menuai didepan mata. Datanglah dia menghampiri.
            “Iya, ada apa?
            “Sampean sibuk tah? Sepertinya dari tadi mata anda melihat seolah-olah tidak jelas kesana kemari.
“Tidak, memangnya sampean menafsirinya bagaimana?
            “Iya seperti tadi, seperti orang yang sedang ebingungan.
“Santai saja.
Tempat duduk kami memang tidak jauh dan tidak terlalu dekat, mungkin hanya selangkah kaki jarak antara mata ke mata. Bisikan-bisan obrolan yang terurai agar tidak ada yang tahu. Ku bisikan padanya “bolehkan kita ngobrol sebentar sebelum acara ini dimulai.
            “Memangnya ada masalah apa? Sahutnya dengan sedikit heran.
            “Begini, kemarin itu sampean kan sudah terima file dari saya. Pasti pahamkan apa yang dimaksud saya.
            “Iya, saya paham, lantas ada apa dengan file itu?
            “Saya kira dan saya yakin tentang hal ini, dengan file yang terisi siratan atau uraian kisah silam itu. Dan saya yakin sampean tidak akan bisa menghindari akan fakta dibalik layar tulisan itu.
“Memang ia, saya tak dapat menghindarinya. Tapi bagus ko’ tulisannya, say suka.
Responnya tentang tulisan itu dengan mengatakan bagus sungguh sudah basi dan baku sekali, karena tak ada hari tanpanya memuji fakta yang ia terima dan kritiknya terhadap realita ia selalu selipkan senyum-senyumnya.
Dengan kata-katanya bagus dan aku suka membuat aku hampa mendengarnya, karena aku tak pernah bisa percaya diri sebelum realita dunia ini merespon baik.
            “Namun ketika saya membaca tulisannya sampean itu ada dua pemetakan, transparan dan samar penuh rahasia, dan saya tahu itu karena itu sudah ciri khasnya sampean sepanajang saya kenal, tidak jelas dan penuh teka-teki dan teman-teman kelas pun meng-amini itu. Dengan nada senyumnya Dia mengutarakan itu semua. Saat itu pula spontan bibirku melebar sedikit tersenyum.
“Aku mohon maaf sebelumnya. Mungkinkah tulisan itu menyakitkan pihak lain atau ada siratan sedikitlah atau juga ada cerita yang salah disitu?
“Saya kira tidak, namun ada sih sedikit. Ya sudahlah santai saja.
Tanggapannya cukup meneteskan tinta bekas sakit dihati-ku. Karena aku tak yakin sama sekali dengan kata-kata santainya “santai saja”.
Tatapan matanya sudah lain saat ku lihat dan tafsiran-ku sudah berbeda tentang gerak gerik wajah, duduknya dan matanya. Aku merasa bersalah sekali menulis cerita pahit kelam itu.
            “Sekali lagi saya minta maaf, sungguh saya minta maaf.
            “Santai saja kale. Ucapnya dengan senyum.
            “Oya, kalau saya boleh bertanya lebih mendalam, apakah sampean sekarang masih merakan getar-getar masa silam itu. Dengan bertanya ini saya harap dengan sangat sampean menjawabnya dengan jujur.
“Sudahlah tak usah bahas itu lagi, semua kan sudah lewat.
Dengan spontan aku ungkapkan padanya tentang kegelisahan hari-ini ini.
            “Akan tetapi seandainya sampean tahu, malu-lah yang akan saya dapat dan jika anda tidak mengetahuinya, maka siksalah yang saya dapatkan. Jujur, hari-hari ini saya selalu dihantui bayang-bayang wajah sampean, sungguh tak ada niat saya untuk menuai kontroversi tentang kata ini. inilah yang sesungguhnya...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar