Minggu 0 Mei 2014
Novel Mini : Uraian
Kisah-Kisah Silam
Lama sudah rasanya tak berjumpa
dengan si Dia yang selalu mengganggu batin. Entah apa kiranya jika perjumpaan
yang di iringi senyum manja mengikat itu terjadi kembali. Sunyi malam-malam tak
lepasnya sosok wajah si Dia berkaca mata itu. Mungkin cap atau stempel dalam
hatinya sudah tak lagi bisa dihapus. Namun apa kira jika siksa yang melanda
hanya itu hanya dilampiasi oleh senyum-senyum tak jelas. Memang pagi itu sempat
berbincang-bincang dengannya di suatu forum formal yang diadakan oleh pihak
kemahasiswaan. Dengan nada sedikit samar aku memanggilnya.
“Mar’ah,
bisa kesini, saya mau ngobrol sebentar.
Senyumnya-pun menuai didepan
mata. Datanglah dia menghampiri.
“Iya,
ada apa?
“Sampean sibuk tah? Sepertinya dari
tadi mata anda melihat seolah-olah tidak jelas kesana kemari.
“Tidak,
memangnya sampean menafsirinya bagaimana?
“Iya seperti tadi, seperti orang
yang sedang ebingungan.
“Santai saja.
Tempat duduk kami memang tidak
jauh dan tidak terlalu dekat, mungkin hanya selangkah kaki jarak antara mata ke
mata. Bisikan-bisan obrolan yang terurai agar tidak ada yang tahu. Ku bisikan
padanya “bolehkan kita ngobrol sebentar sebelum acara ini dimulai.
“Memangnya
ada masalah apa? Sahutnya dengan sedikit heran.
“Begini, kemarin itu sampean kan
sudah terima file dari saya. Pasti pahamkan apa yang dimaksud saya.
“Iya, saya paham, lantas ada apa
dengan file itu?
“Saya kira dan saya yakin tentang
hal ini, dengan file yang terisi siratan atau uraian kisah silam itu. Dan saya
yakin sampean tidak akan bisa menghindari akan fakta dibalik layar tulisan itu.
“Memang ia,
saya tak dapat menghindarinya. Tapi bagus ko’ tulisannya, say suka.
Responnya tentang tulisan itu
dengan mengatakan bagus sungguh sudah basi dan baku sekali, karena tak ada hari
tanpanya memuji fakta yang ia terima dan kritiknya terhadap realita ia selalu
selipkan senyum-senyumnya.
Dengan kata-katanya bagus dan aku
suka membuat aku hampa mendengarnya, karena aku tak pernah bisa percaya diri
sebelum realita dunia ini merespon baik.
“Namun ketika saya membaca tulisannya
sampean itu ada dua pemetakan, transparan dan samar penuh rahasia, dan saya
tahu itu karena itu sudah ciri khasnya sampean sepanajang saya kenal, tidak
jelas dan penuh teka-teki dan teman-teman kelas pun meng-amini itu.
Dengan nada senyumnya Dia mengutarakan itu semua. Saat itu pula spontan bibirku
melebar sedikit tersenyum.
“Aku mohon
maaf sebelumnya. Mungkinkah tulisan itu menyakitkan pihak lain atau ada siratan
sedikitlah atau juga ada cerita yang salah disitu?
“Saya kira
tidak, namun ada sih sedikit. Ya sudahlah santai saja.
Tanggapannya cukup meneteskan
tinta bekas sakit dihati-ku. Karena aku tak yakin sama sekali dengan kata-kata
santainya “santai saja”.
Tatapan matanya sudah lain saat ku
lihat dan tafsiran-ku sudah berbeda tentang gerak gerik wajah, duduknya dan
matanya. Aku merasa bersalah sekali menulis cerita pahit kelam itu.
“Sekali
lagi saya minta maaf, sungguh saya minta maaf.
“Santai
saja kale. Ucapnya dengan senyum.
“Oya, kalau saya boleh bertanya
lebih mendalam, apakah sampean sekarang masih merakan getar-getar masa silam
itu. Dengan bertanya ini saya harap dengan sangat sampean menjawabnya dengan
jujur.
“Sudahlah tak
usah bahas itu lagi, semua kan sudah lewat.
Dengan spontan aku ungkapkan
padanya tentang kegelisahan hari-ini ini.
“Akan tetapi seandainya sampean
tahu, malu-lah yang akan saya dapat dan jika anda tidak mengetahuinya, maka
siksalah yang saya dapatkan. Jujur, hari-hari ini saya selalu dihantui
bayang-bayang wajah sampean, sungguh tak ada niat saya untuk menuai kontroversi
tentang kata ini. inilah yang sesungguhnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar