Dua
tahun setengah sudah sejarah itu terkenang, namun tak kunjung jadi kenyataan.
Walaupun tetap terkenang dan tidak pernah menjadi setitik debu pun
kenyataannya, aku tidak pernah merasa bahwa itu hanyalah kepalsuan belaka,
melainkan aku anggap itu semua keaslian yang pasti dan tidak dapat terpungkiri.
Inilah sejarahnya yang selalu bersifat dinamis dan aktif walau bukan dalam
tataran empiris. Karena aku percaya jika perasaan diaplikasikan dalam bentuk
konkritnya yang bersifat empiris akan lekas terkikis oleh lajunya detik. Karena
kecemasan yang dibawa oleh manusia sejak ia hadir ke dunia tidak pernah di coba
untuk dilepaskan.
Alkisah
suatu hari perasaan itu akan terepresentasikan oleh dorongan yang kuat, namun
sekali lagi logika melakukan pemberontakan besar-besaran dan akhirnya keinginan
itu terdekonstruksi secara tiba-tiba dan akhirnya menjadi keinginan yang
tertunda.
Ketertundaan
ini bukanlah hal yang tidak pernah diselimuti oleh perih, akan tetapi bukan
hanya menyelimuti melainkan juga menjadi satu dalam bingkai kegelisahan.
Kegelisahan yang terus menjadi hakikat seorang diri, akhirnya dinikmati dengan
intuisi dan imajinasi yang sangat istimewa melebihi representasi nyatanya.
Saat
ku mulai melakukan interpretasi terhadap dia, aku tidak pernah merasakan
kecemasan akan tetapi kebahagiaan yang terus melanda dan sampai tersenyum pun
aku tidak menyadarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar