Rabu, 20 Mei 2015

Inilah Sejarahnya

Dua tahun setengah sudah sejarah itu terkenang, namun tak kunjung jadi kenyataan. Walaupun tetap terkenang dan tidak pernah menjadi setitik debu pun kenyataannya, aku tidak pernah merasa bahwa itu hanyalah kepalsuan belaka, melainkan aku anggap itu semua keaslian yang pasti dan tidak dapat terpungkiri. Inilah sejarahnya yang selalu bersifat dinamis dan aktif walau bukan dalam tataran empiris. Karena aku percaya jika perasaan diaplikasikan dalam bentuk konkritnya yang bersifat empiris akan lekas terkikis oleh lajunya detik. Karena kecemasan yang dibawa oleh manusia sejak ia hadir ke dunia tidak pernah di coba untuk dilepaskan.
Alkisah suatu hari perasaan itu akan terepresentasikan oleh dorongan yang kuat, namun sekali lagi logika melakukan pemberontakan besar-besaran dan akhirnya keinginan itu terdekonstruksi secara tiba-tiba dan akhirnya menjadi keinginan yang tertunda.
Ketertundaan ini bukanlah hal yang tidak pernah diselimuti oleh perih, akan tetapi bukan hanya menyelimuti melainkan juga menjadi satu dalam bingkai kegelisahan. Kegelisahan yang terus menjadi hakikat seorang diri, akhirnya dinikmati dengan intuisi dan imajinasi yang sangat istimewa melebihi representasi nyatanya.

Saat ku mulai melakukan interpretasi terhadap dia, aku tidak pernah merasakan kecemasan akan tetapi kebahagiaan yang terus melanda dan sampai tersenyum pun aku tidak menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar