Mungkin persahabatan lebih baik daripada merekatkan cinta
yang telah lama bersemayam dan walaupun posisi itu masih menyisahkan
sayat-sayat sakit yang dibingkai senyum, canda dan tawa.
Andai saja, jika saya boleh mengandai-andai bahwa sejarah
itu akan berbuah manis. Maka tak akan ada dan terjadi tulisan yang mengisahkan
rasa sakit ini. Namun tulisan ini akan membalik menjadi cerita sebagaimana
mestinya.
Saya telah lama berlarut mengawang-ngawang sebuah kisah masa
depan di setiap waktu. Membayangkan sebuah sejarah dialektika untuk terus
merevolusi cinta dan kasih sayang kita beruda. Meredam setiap amarah yang ada.
Memeluk masalah bersama dan mengisi kekosongan yang melanda. Akan tetapi apa,
ini semua hanyalah bentuk utopia saja, senyatanya ia tak ada apa-apanya.
Pernah suatu ketika, saya merintih sakit dua minggu lamanya,
hanya karena kehebatan cinta yang saya punya untuk anda. Gelisah dikamar dan
akhirnya saya memilih menjadi orang kamar. Perjuangan saya selama itu tak lain,
jika bukan karena ketulusan cinta saya pada anda. Hati saya terbelah saat
mendengar anda telah membuat pilihan untuk bersanding di dekat pengamanan orang
lain. Saya tersedu-sedu, menahan perih rintihan cinta saya untuk anda yang
masih belum tersampaikan jua.
Apalah arti seorang saya yang dirundung rintih, gelisah,
serta gundah gulana yang begitu lamanya saya rasakan. Anda mungkin tidak pernah
tahu dan memiliki perasangka sedikit-pun tentang arti dan makna senyum saya
tatkala bertemu dengan anda. Dibalik kebugaran senyum itu, ada rintih pula
dibaliknya. Batin saya tertekan asmara berolah, campur aduk, gersang karena air
damai cinta anda tak dapat saya peluk untuk mengaliri di setiap celah didalamnya.
Maaf
Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar