Rabu, 13 Mei 2015

You and Me

I Love You

Mungkin "i love you" inilah yang ada dalam hatiku tatkala pertama kali bertemu dengan sampean diruangan B.102 yang diawali dengan bersaling tukar nomor hanphone. Namun, entahlah aku tak pernah menghiraukan "iya atau tidak" yang ada dalam hati sampean itu sendiri.
Sepanjang perjalanan waktu itu, rasa itu masih ada dan terus berevolusi setiap detiknya. Mungkin sampean tidak akan percaya akan hal ini, karena saya juga tahu kejadian yang mungkin membuat sampean kecewa terhadap seorang saya adalah hadirnya sosok wanita dari Probolinggo tatkala itu. Memang betul dia mencintai saya, tapi hati dan jiwa saya selalu untuk sampean.
Setiap malam saya selalu menghadirkan wajah sampean yang manis itu disela sepiku. Karena aku memang suka terhadap kesepian dan kesunyiaan, dan bahkan saya sempat mengiyakan apa yang Nietzsche tulis dalam bukunya bahwa "kesepian dan kesunyian adalah rumahku". Maka disanalah saya selalu menghadirkan wajahmu dan kelembutan tutur bicaramu. Disisi lain, aku tak pernah meluangkan disetiap bayangan bahwa "saya dan sampean" terjadi dialog disana.
Mungkin sejauh ini sampean tak pernah tahu sebesar apa cinta saya pada sampean. Dan juga saya akui bahwa besarnya cinta itu hanya akan tampak seserpih saja. Ocehan dan lantunan tentang kita yang digemakan oleh teman-teman kelas mungkin hanyalah seserpih dari besarnya cinta itu sendiri.
Blog ini saya buat, bukan untuk pamer, bukan untuk sombong, bukan untuk gombal-gembel dan apalah yang mungkin membuat sampean tak percaya saya. Namun blog ini saya buat atas hadirnya sosok sampean yang selalu memberikan arah gerakan baru dalam hidup saya.
Mar'atus Sholikhah, jiwamu melebihi namamu. Itu bagiku. Selamanya akan selalu aku kenang. Ini bukan kata-kata yang berlebihan dan sekali lagi bukan, melainkan inilah kenyataan. Jika sampean pernah baca bukunya Bryan Magee disana ada sebuah kata yang tertulis bahwa kebenaran itu ada dua, yaitu kebenaran nalar dan fakta. Sedangkan kebenaran yang ada dalam diri saya untuk sampean adalah kebenaran dua-duanya dan bahkan melebihinya.
Mar’ah, jika saya tidak dapat memelukmu dengan tubuh ini, maka, tatapan inilah yang hanya bisa memeluk sampean.

Mohammad Ishak Maulana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar