I Love You
Mungkin
"i love you" inilah yang ada dalam hatiku tatkala pertama kali
bertemu dengan sampean diruangan B.102 yang diawali dengan bersaling tukar
nomor hanphone. Namun, entahlah aku tak pernah menghiraukan "iya atau
tidak" yang ada dalam hati sampean itu sendiri.
Sepanjang
perjalanan waktu itu, rasa itu masih ada dan terus berevolusi setiap detiknya. Mungkin
sampean tidak akan percaya akan hal ini, karena saya juga tahu kejadian yang
mungkin membuat sampean kecewa terhadap seorang saya adalah hadirnya sosok
wanita dari Probolinggo tatkala itu. Memang betul dia mencintai saya, tapi hati
dan jiwa saya selalu untuk sampean.
Setiap
malam saya selalu menghadirkan wajah sampean yang manis itu disela sepiku. Karena
aku memang suka terhadap kesepian dan kesunyiaan, dan bahkan saya sempat
mengiyakan apa yang Nietzsche tulis dalam bukunya bahwa "kesepian dan
kesunyian adalah rumahku". Maka disanalah saya selalu menghadirkan wajahmu
dan kelembutan tutur bicaramu. Disisi lain, aku tak pernah meluangkan disetiap
bayangan bahwa "saya dan sampean" terjadi dialog disana.
Mungkin
sejauh ini sampean tak pernah tahu sebesar apa cinta saya pada sampean. Dan
juga saya akui bahwa besarnya cinta itu hanya akan tampak seserpih saja. Ocehan
dan lantunan tentang kita yang digemakan oleh teman-teman kelas mungkin
hanyalah seserpih dari besarnya cinta itu sendiri.
Blog
ini saya buat, bukan untuk pamer, bukan untuk sombong, bukan untuk
gombal-gembel dan apalah yang mungkin membuat sampean tak percaya saya. Namun blog
ini saya buat atas hadirnya sosok sampean yang selalu memberikan arah gerakan
baru dalam hidup saya.
Mar'atus
Sholikhah, jiwamu melebihi namamu. Itu bagiku. Selamanya akan selalu aku
kenang. Ini bukan kata-kata yang berlebihan dan sekali lagi bukan, melainkan
inilah kenyataan. Jika sampean pernah baca bukunya Bryan Magee disana ada
sebuah kata yang tertulis bahwa kebenaran itu ada dua, yaitu kebenaran nalar
dan fakta. Sedangkan kebenaran yang ada dalam diri saya untuk sampean adalah
kebenaran dua-duanya dan bahkan melebihinya.
Mar’ah,
jika saya tidak dapat memelukmu dengan tubuh ini, maka, tatapan inilah yang
hanya bisa memeluk sampean.
Mohammad Ishak Maulana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar