Rabu, 20 Mei 2015

Tanpa Judul

Kemarin tanggal 20 Maret 2015 aku benar-benar marah pada salah satu sahabatku. Karena dengan beraninya dia memegang dan menarik tangan rahasia hidupku di depan kantor prodi filsafat agama. Karena selama perjumpaanku dengannya aku masih belum berani memegang tangannya. Pernah suatu ketika aku tidak sengaja memegang tangannya, dengan spontan ia berucap astagfirullah.
Dari sini aku mulai belajar untuk tidak menyentuhnya. Dia suci bagiku. Tak ada duanya, dan biarlah orang berkata apa. Dan biarlah Armada bekata “mau dibawa kemana?”.
Tepat setelah sahabatku melepaskan tangannya, aku berkata “tolong jangan seperti itu, karena aku saja masih belum pernah memegangnya.


19 Maret 2015, jam 08:23, SMS.
Dia: Sampean dimana?
Saya: dikelas, kajian teks islam, kenapa?
Dia: mau ketemu.
Saya: sampean dimana?
Dia: dikontrakan.
Saya: wong masih dikontrakan.
Dia: hehehe, kan memastikan toh. Bapaknya ada ya?
Saya: ada. Sampean, saya selalu pagi dikampus. Hehehe
Dia: hehehe, enggeh.

19 Maret 2015, jam 13:45, SMS.
Saya: Mar’ah sudah ngubungi Yuli?
Dia: sampun. sampean ae kesini.
Saya: kemana? Di HMJ yoook?
Dia: dikelas aja is, tak tunggu dikelas yang tadi.
Saya: lebih enak di HMJ.
Dia: gak mau. Dikelas yang tadi.
Saya: saya makan dulu nggeh...
Dia: cepat ya.
Dia: masih lamakah?
Saya: sampean dimana sekarang?
Dia: kelas.
Saya: sama siapa?
Dia: Najma.
Saya: ok. Ne wudah selesai.
Dia: berapa menit lagi.
Saya: 5 menit. Beneran.
Dia: sudah dua orang yang mendaftar is.
Saya: siapa saja nama yang sudah nyetor?
...........***gak dibales***......
Kalau saya amati SMS-nya. Dia selalu cuek. Entah kenapa. Masih ku simpan di gudang tanda tanya.!!

19 Maret 2015
Aku menemuinya di kelas lantai tiga. Berawal dengan bicara soal lomba. Hingga akhirnya aku jadikan kesempatan untuk bertanya “apakah dia sekarang sudah dengan orang lain”.
Ku panggil dia dari tempat duduknya dengan Najma dalam keadaan sedang menonton film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”.  Pada awalnya dia tidak mau, namun aku coba dan paksa dia untuk duduk di depanku. Dan akhirnya aku mulai bertanya.
Mar’ah, sampean sudah punya kekasih?
Hehehe, sahutnya dengan senyum tanpa kecamata.
Aku serius, sungguh saat ini aku tidak bercanda.
Mboten (tidak), sahutnya.

Ya sudah, saya pergi dulu. Sampai nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar