Kemarin
tanggal 20 Maret 2015 aku benar-benar marah pada salah satu sahabatku. Karena
dengan beraninya dia memegang dan menarik tangan rahasia hidupku di depan
kantor prodi filsafat agama. Karena selama perjumpaanku dengannya aku masih
belum berani memegang tangannya. Pernah suatu ketika aku tidak sengaja memegang
tangannya, dengan spontan ia berucap astagfirullah.
Dari sini
aku mulai belajar untuk tidak menyentuhnya. Dia suci bagiku. Tak ada duanya,
dan biarlah orang berkata apa. Dan biarlah Armada bekata “mau dibawa kemana?”.
Tepat
setelah sahabatku melepaskan tangannya, aku berkata “tolong jangan seperti itu,
karena aku saja masih belum pernah memegangnya.
19 Maret
2015, jam 08:23, SMS.
Dia: Sampean
dimana?
Saya:
dikelas, kajian teks islam, kenapa?
Dia: mau ketemu.
Saya:
sampean dimana?
Dia:
dikontrakan.
Saya: wong
masih dikontrakan.
Dia: hehehe,
kan memastikan toh. Bapaknya ada ya?
Saya: ada.
Sampean, saya selalu pagi dikampus. Hehehe
Dia: hehehe,
enggeh.
19 Maret
2015, jam 13:45, SMS.
Saya: Mar’ah
sudah ngubungi Yuli?
Dia: sampun.
sampean ae kesini.
Saya:
kemana? Di HMJ yoook?
Dia: dikelas
aja is, tak tunggu dikelas yang tadi.
Saya: lebih
enak di HMJ.
Dia: gak
mau. Dikelas yang tadi.
Saya: saya
makan dulu nggeh...
Dia: cepat
ya.
Dia: masih
lamakah?
Saya: sampean
dimana sekarang?
Dia: kelas.
Saya: sama
siapa?
Dia: Najma.
Saya: ok. Ne
wudah selesai.
Dia: berapa
menit lagi.
Saya: 5
menit. Beneran.
Dia: sudah
dua orang yang mendaftar is.
Saya: siapa
saja nama yang sudah nyetor?
...........***gak
dibales***......
Kalau saya
amati SMS-nya. Dia selalu cuek. Entah kenapa. Masih ku simpan di gudang tanda
tanya.!!
19 Maret
2015
Aku
menemuinya di kelas lantai tiga. Berawal dengan bicara soal lomba. Hingga
akhirnya aku jadikan kesempatan untuk bertanya “apakah dia sekarang sudah
dengan orang lain”.
Ku panggil
dia dari tempat duduknya dengan Najma dalam keadaan sedang menonton film
“Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”. Pada
awalnya dia tidak mau, namun aku coba dan paksa dia untuk duduk di depanku. Dan
akhirnya aku mulai bertanya.
Mar’ah,
sampean sudah punya kekasih?
Hehehe,
sahutnya dengan senyum tanpa kecamata.
Aku serius,
sungguh saat ini aku tidak bercanda.
Mboten
(tidak), sahutnya.
Ya sudah,
saya pergi dulu. Sampai nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar