Seminggu yang lalu saya tidak merasakan ketenangan disaat
sampean berucap tak akan ada di Surabaya selama seminggu dan hanya berucap
sekata bahwa sampean ingin ke Palu. Entah ada acara apa saya tak tahu.
Khawatirkan sampean yang disana, mungkin tidak bagi sampean sendiri atau
sebaliknya (ah itu hanya pengandaian angan-angan saja).
Seminggu yang lalu, gairah kuliah saya tidak begitu memuncak
sebagaimana senyum sampean hadir disana. Penampilan saya seraya orang sakit dan
bergulur rasa sedih yang campur aduk. Hingga ada seorang teman yang bertanya
mengapa saya berbeda hari itu dan saya jawab, inilah saya apa adanya (menepis
rasa yang sesungguhnya).
Seminggu yang lalu itu pula, senyum saya tiada lagi mewarnai
hari-hari saya. Tiada lagi semangat membangun revolusi cinta atau sudah mulai
kendur. Namun sesaat saya bangkit dan teringat, bahwa saya bangkit dan berjuang
selama ini di Surabaya hanya dan tak lain karena semangat yang terpancar dari
sampean dan manifestasinya dalam diri saya. Apa pun yang saya lakukan selama
ini, belajar filsafat dan lain-lain karena saya tidak pernah melupakan dan
membuang bayangan senyum sampean dalam diri saya. Akhirnya, walaupun tanpa
sampean didepan mata saya, saya tetap semangat untuk membaca dan menulis
cerita-cerita kita didalam kertas yang penuh dengan keterbatasan. Karena, sampean
selalu ada dalam revolusi hidup saya.
Jika kiranya semua yang saya rasakan adalah bersifat
berlebihan bagi sampean. Itu tidak dan tidak. Melainkan itu masih berada dalam
kekurangan yang sangat kurang. Untuk itu, dalam setiap waktu saya selalu
merevolusi cinta ini untuk sampean hingga abtrak nantinya bagi sampean dan tak
lagi sampean ketahui. Seking besarnya.
Satu hal yang akan terus saya
lakukan dalam hidup ini yaitu “Revolusi cinta saya tak akan pernah mati”.
Assalamualaikum,
Terimakasih
dan maaf sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar