Minggu, 24 Mei 2015

Seminggu


Seminggu yang lalu saya tidak merasakan ketenangan disaat sampean berucap tak akan ada di Surabaya selama seminggu dan hanya berucap sekata bahwa sampean ingin ke Palu. Entah ada acara apa saya tak tahu. Khawatirkan sampean yang disana, mungkin tidak bagi sampean sendiri atau sebaliknya (ah itu hanya pengandaian angan-angan saja).
Seminggu yang lalu, gairah kuliah saya tidak begitu memuncak sebagaimana senyum sampean hadir disana. Penampilan saya seraya orang sakit dan bergulur rasa sedih yang campur aduk. Hingga ada seorang teman yang bertanya mengapa saya berbeda hari itu dan saya jawab, inilah saya apa adanya (menepis rasa yang sesungguhnya).
Seminggu yang lalu itu pula, senyum saya tiada lagi mewarnai hari-hari saya. Tiada lagi semangat membangun revolusi cinta atau sudah mulai kendur. Namun sesaat saya bangkit dan teringat, bahwa saya bangkit dan berjuang selama ini di Surabaya hanya dan tak lain karena semangat yang terpancar dari sampean dan manifestasinya dalam diri saya. Apa pun yang saya lakukan selama ini, belajar filsafat dan lain-lain karena saya tidak pernah melupakan dan membuang bayangan senyum sampean dalam diri saya. Akhirnya, walaupun tanpa sampean didepan mata saya, saya tetap semangat untuk membaca dan menulis cerita-cerita kita didalam kertas yang penuh dengan keterbatasan. Karena, sampean selalu ada dalam revolusi hidup saya.
Jika kiranya semua yang saya rasakan adalah bersifat berlebihan bagi sampean. Itu tidak dan tidak. Melainkan itu masih berada dalam kekurangan yang sangat kurang. Untuk itu, dalam setiap waktu saya selalu merevolusi cinta ini untuk sampean hingga abtrak nantinya bagi sampean dan tak lagi sampean ketahui. Seking besarnya.
Satu hal yang akan terus saya lakukan dalam hidup ini yaitu “Revolusi cinta saya tak akan pernah mati”.
Assalamualaikum,

Terimakasih dan maaf sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar