Mar’ah, mungkin
dalam benak dan pikir-ku selama ini bukan engkau yang sesungguhnya. Melainkan
engkau adalah aku atau engkau yang dipahami lewat aku. Maka tak Ku sadari
sebelumnya, jika selama ini aku hanyalah mengiyakan engkau ada untuk ku dan
tulus kumiliki. Begitu juga aku terlalu lama dikonsumsi oleh pikirku sendiri
sehingga melupakan engkau yang sesungguhnya dan mengingatkan engkau dalam
diriku yang aku pahami. Jadi, selama ini aku hanya berpura-pura saja pada
diriku sendiri untuk mengisi resah dengan senyummu lewat renunganku tentangmu.
Namun aku sadar satu hal, semua ini hanyalah renungan dan interpretasiku saja
atas dirimu dan juga merupakan ketidakjujuranku untuk diriku sendiri.
Engkau sendiri
atau engkau bagiku, inilah kata yang mengawali kesadaranku atas kepura-puraanku
memilikimu. Jika engkau sendiri, jauh sekali aku untuk memahami yang
sesungguhnya. Dan jika engkau bagiku, indah rasanya dan tiada satu duanya.
Alhamdulillah,
berkat “kotak obat filsafat” yang aku temukan. Dan Aku meminumnya satu dari
sekian banyak obat filsafat yang ada dalam kotak obat filsafat itu akhirnya aku
sadar satu hal sebagaimana yang aku katakan dalam paragraf diatas. Bahwa engkau
ku miliki hanya lewat ke-aku-an-Ku.
*****
Jika dulu
engkau yang sakit, kini akulah yang merasakannya. Karena inilah pilihanku,
memilih sakit di akhir daripada diawal sebagaimana engkau rasakan dahulu. Dan
apa yang terjadi dewasa ini, lihatlah dirimu kini bahagia. Maaf inilah bacaanku
tentangmu!
Aku memahamimu
bukan darimu, jika pun ia itu hanyalah keinginan saja dan tak akan pernah jadi
nyata. Begitu juga sebaliknya dimana selama ini engkau memahamiku dengan dirimu
dan tak akan pernah engkau mampu terjun langsung menjadi diriku untuk memahami
aku sebagai aku yang an Sich.
Sebagai makhluk Tuhan, kita hanya mempunyai dua kemungkinan tentang dunia ini;
pertama, dunia itu sendiri atau dunia ia adanya. Kedua, dunia yang kita lihat
atau dunia yang tampak dalam pikiran kita.
Sekali lagi, Aku
telah menyalahgunakan diriku sendiri untuk berpura-pura pada diriku sendiri
telah memilikimu, padahal tidak pada an Sich-nya.
Maaf, sekali
lagi maaf! Aku sudah berbuat demikian jauh dan lebih padamu. Ini merupakan
ketidakjujuranku pada diriku dan
juga padamu. Padahal, seorang insan itu haruslah berlaku adil sejak dalam
pikiran apalagi tindakan. Namun aku tidak sejalur dengan kata-kata itu.
Malam
20
Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar