Rabu, 20 Mei 2015

Engkau dalam Aku

Mar’ah, mungkin dalam benak dan pikir-ku selama ini bukan engkau yang sesungguhnya. Melainkan engkau adalah aku atau engkau yang dipahami lewat aku. Maka tak Ku sadari sebelumnya, jika selama ini aku hanyalah mengiyakan engkau ada untuk ku dan tulus kumiliki. Begitu juga aku terlalu lama dikonsumsi oleh pikirku sendiri sehingga melupakan engkau yang sesungguhnya dan mengingatkan engkau dalam diriku yang aku pahami. Jadi, selama ini aku hanya berpura-pura saja pada diriku sendiri untuk mengisi resah dengan senyummu lewat renunganku tentangmu. Namun aku sadar satu hal, semua ini hanyalah renungan dan interpretasiku saja atas dirimu dan juga merupakan ketidakjujuranku untuk diriku sendiri.
Engkau sendiri atau engkau bagiku, inilah kata yang mengawali kesadaranku atas kepura-puraanku memilikimu. Jika engkau sendiri, jauh sekali aku untuk memahami yang sesungguhnya. Dan jika engkau bagiku, indah rasanya dan tiada satu duanya.
Alhamdulillah, berkat “kotak obat filsafat” yang aku temukan. Dan Aku meminumnya satu dari sekian banyak obat filsafat yang ada dalam kotak obat filsafat itu akhirnya aku sadar satu hal sebagaimana yang aku katakan dalam paragraf diatas. Bahwa engkau ku miliki hanya lewat ke-aku-an-Ku.
*****
Jika dulu engkau yang sakit, kini akulah yang merasakannya. Karena inilah pilihanku, memilih sakit di akhir daripada diawal sebagaimana engkau rasakan dahulu. Dan apa yang terjadi dewasa ini, lihatlah dirimu kini bahagia. Maaf inilah bacaanku tentangmu!
Aku memahamimu bukan darimu, jika pun ia itu hanyalah keinginan saja dan tak akan pernah jadi nyata. Begitu juga sebaliknya dimana selama ini engkau memahamiku dengan dirimu dan tak akan pernah engkau mampu terjun langsung menjadi diriku untuk memahami aku sebagai aku yang an Sich.
Sebagai makhluk Tuhan, kita hanya mempunyai dua kemungkinan tentang dunia ini; pertama, dunia itu sendiri atau dunia ia adanya. Kedua, dunia yang kita lihat atau dunia yang tampak dalam pikiran kita.
Sekali lagi, Aku telah menyalahgunakan diriku sendiri untuk berpura-pura pada diriku sendiri telah memilikimu, padahal tidak pada an Sich-nya.
Maaf, sekali lagi maaf! Aku sudah berbuat demikian jauh dan lebih padamu. Ini merupakan ketidakjujuranku pada diriku dan juga padamu. Padahal, seorang insan itu haruslah berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi tindakan. Namun aku tidak sejalur dengan kata-kata itu.
Malam
20 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar