Siapa kira dia akan sia-siakan aku
yang sangat tulus mencintainya. Dan siapa kira juga akibat kejadian silam itu
dia telah mampu mencampakkan aku untuk waktu yang cukup lama. Memang senyumnya tak pernah pudar
walau diterpa oleh sejarah yang membuatnya mencampakkanku. Namun, apalah arti
senyumnya saat ini, yang sudah tidak dapat aku tafsirkan lagi. Mungkin ini yang
disebut sebagai “terlebelahnya integritas hati”.
Sudahlah, mungkin inilah sejarahnya.
Maaf, itu mungkin ungkapan yang tidak akan ia ejawantahkan lagi. Walau begitu,
aku hanya dapat melakukan satu hal yaitu, memeluk dan menyentuhnya dengan
tatapanku.
Beginilah sejarahnya, apa yang aku
lakukan selama ini walaupun tidak secara terang-terangan bahwa hatiku sangat
menginginkannya menjadi pelipur lara dikala senja tiba kini menjadi bualan yang
aku anggap sebagai balasan yang setimpal. Dan ini harus diterima dengan penuh arti dan
makna.
Setelah perginya ia (hatinya
untukku), yang aku lakukan hanyalah menghayal setinggi mungkin bahwa aku telah
memilikinya secara halal. Aku tau ini dusta, dan aku tau inilah khayalan yang
tiada siapapun tidak merasakannya.
Akhir dari ini, aku hanya bisa
berharap, bahwa ia harus tetap baik-baik saja. Melupakannya, adalah hal
tersulit bagiku. Sampai kapan pun dan sampai kapan pun, engkaulah bidadari
khayalanku, untuk selamanya. Jika kau masih tak dapat menjadi milikku dalam dua
realitas (bayangan dan kenyataan).
Malam
22 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar