Zarathustra, mungkin
sampean pernah mendengar nama ini. Nama seorang yang didambakan oleh filsuf
asal Jerman, Friedrich W. Nietsche yang tidak suka dengan pertanyaan
"mengapa?". Tapi saya menyukainya dan mencintainya. Tahu mengapa? Karena
dengan bertanya mengapa akan mendapat jawaban yang tidak gampang dan inilah
yang juga saya sukai. Kepala saya seringkali mengalami rasa sakit akibat
membuat sebuah persoalan dan kebingungan yang amat sangat sulit dimana nantinya
jawaban dari pertanyaan itu saya merasakan kepuasan yang cukup dan tidak puas. Mungkin
ini sedikit pengantar untuk bait-bait cintaku setelah ini. Bagi saya, dimana
ada cinta, disana ada filsafat.
****
Ada seorang teman
bertanya pada saya, "mengapa" kau tak nyatakan padanya? Saya hanya
tersenyum padanya. Selanjutnya dia bertanya, "mengapa" tersenyum? Saya
memulai menjawabnya, ada satu hal yang membuat saya khawatir dalam hidup ini. Pertama,
jika saya nyatakan perasaan ini, maka yang terjadi adalah "iya dan
tidak" mungkin darinya. Karena jika "iya", saya hanya takut
nantinya membuat dirinya sakit walaupun tak pernah terbesit dalam pikirku untuk
menyakitinya. Sejalan dengan filsafat Jeremy Bentham bahwa dunia ini terisi
sedih dan bahagia. Kedua, dia bagiku terlalu suci, anggun nan indah membuat
saya masih belum sanggup untuk menyatakannya. Lantas teman saya bertanya lagi,
terus apa usaha kamu untuk dia? Saya awali dengan senyum dan pernyataan
"rumah kesunyianku selalu menghadiahkan hadir wajahnya, bercakap dan
berdialog dengannya.
Setetes air
mata seorang lelaki mungkin sebagian orang akan berkata “dia cengeng”, namun
berbalik dan berbeda bagi saya, bahwa setetes air mata disaat mengingat dan
menjumpainya dirumah kesepian adalah kebahagiaan tersendiri.
Mohammad Ishak Maulana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar