Rabu, 13 Mei 2015

Mengapa?

Zarathustra, mungkin sampean pernah mendengar nama ini. Nama seorang yang didambakan oleh filsuf asal Jerman, Friedrich W. Nietsche yang tidak suka dengan pertanyaan "mengapa?". Tapi saya menyukainya dan mencintainya. Tahu mengapa? Karena dengan bertanya mengapa akan mendapat jawaban yang tidak gampang dan inilah yang juga saya sukai. Kepala saya seringkali mengalami rasa sakit akibat membuat sebuah persoalan dan kebingungan yang amat sangat sulit dimana nantinya jawaban dari pertanyaan itu saya merasakan kepuasan yang cukup dan tidak puas. Mungkin ini sedikit pengantar untuk bait-bait cintaku setelah ini. Bagi saya, dimana ada cinta, disana ada filsafat.

****

Ada seorang teman bertanya pada saya, "mengapa" kau tak nyatakan padanya? Saya hanya tersenyum padanya. Selanjutnya dia bertanya, "mengapa" tersenyum? Saya memulai menjawabnya, ada satu hal yang membuat saya khawatir dalam hidup ini. Pertama, jika saya nyatakan perasaan ini, maka yang terjadi adalah "iya dan tidak" mungkin darinya. Karena jika "iya", saya hanya takut nantinya membuat dirinya sakit walaupun tak pernah terbesit dalam pikirku untuk menyakitinya. Sejalan dengan filsafat Jeremy Bentham bahwa dunia ini terisi sedih dan bahagia. Kedua, dia bagiku terlalu suci, anggun nan indah membuat saya masih belum sanggup untuk menyatakannya. Lantas teman saya bertanya lagi, terus apa usaha kamu untuk dia? Saya awali dengan senyum dan pernyataan "rumah kesunyianku selalu menghadiahkan hadir wajahnya, bercakap dan berdialog dengannya.
Setetes air mata seorang lelaki mungkin sebagian orang akan berkata “dia cengeng”, namun berbalik dan berbeda bagi saya, bahwa setetes air mata disaat mengingat dan menjumpainya dirumah kesepian adalah kebahagiaan tersendiri.
Mohammad Ishak Maulana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar