Mar’ah, perasaanku tak pernah
padam untukmu. Walaupun sudah sekian lama waktu ini berlaju. Walaupun sudah kau
lupakan aku. Walaupun kau telah buang aku. Walaupun kau telah dengan yang lain.
Aku tetap tersenyum untukmu, tetap terbuka untukmu, tetap setia menantimu untuk
ku jadikan permaisuri fiddun yaa wal akhiroh-ku.
Hari-hari ini, engkau mungkin
telah lupakan aku. Tidak begitu merespon aku. Tidak begitu tersenyum lagi untuk
ku dan tidak mempunyai makna lagi senyummu untukku. Hal biasa bagiku, karena
sudah lama ku alami semua itu. Namun hati dan perasaannku, tetap sayang padamu.
17 Februari 2015 kemaren, cukup
parah aku merindukanmu. Terlena aku dibuat senyummu. Sampai kau hadir dalam
mimpiku dalam keadaan senyum dan tersenyum ada di depanku. Ingin aku utarakan
isi perasaanku dalam mimpi itu, tapi aku sadar bahwa aku tak mungkin ucapkan
isi hatiku. Akhirnya, aku hanya berbalik tersenyum untukmu.
Dalam mimpi itu, engkau tak ku
sentuh sedikitpun, hanya saja, aku tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar