Bagian ini, hanya
ku lukiskan kisah, dimana dia sudah tiada respon apa-apa. Namun aku lah yang
ada.
Malam itu,
Assalamualaikum sebagai awal percakapan dalam SMS-ku
padanya.
Waalaikum salam, bisakah ada yang bisa saya bantu?
Balasannya. Ku rasa SMS ini cuek, namun Ku bingkai dengan warna yang berbunga.
Karena senyumnya terus terbayang tatkala aku diam. Walau dalam hati aku selalu
berkata “aku tak akan memilikinya”.
Hemz,... tidak ada, hanya ada satu hal yang ingin saya
katakan, saya rindu senyum sampean. (Hee..) balasnya. Namun tak ku lanjut sms
itu, kecewa rasanya, begitu juga aku merasa bahwa aku tetap tak pantas
untuknya.
Memang hari-hari ini dia selalu menghindar dari kata-kataku,
ku yakini itu mungkin trauma akan sejarah silam. Ya, sudahlah.. menyerah
rasanya, namun mengapa aku masih mengharapkannya. Tapi tidak menutup
kemungkinan sebaliknya. Tertawaku sejenak.
*******
Pagi itu,
Tak seperti biasanya, dia tampak memalingkan wajahnya. Entah
mengapa? Untuk menghindari akan hal itu, aku titipkan kata hatiku pada
kekosongan, yang tak terucap apa lagi terurai. Gundah gulana sejak itu, bisik
hatiku berkata bahwa ini adalah karma. Lanjut bertanya aku pada diriku, mengapa
aku percaya (karma)? Namun diriku tak menolak akan hal itu, bahwa salahku tidak
akan termaafkan padanya.
Sebenarnya, aku berkeinginan sekali untuk berbicara empat
mata, untuk ku katakan maaf padanya. Karna, selama ini aku selalu terbayang
wajahnya, dan ini adalah karma. Namun tak sempat keinginan itu terkabul.
Biasa, biasa dan biasa saja hari-hari yang sedemikian
dituntut untuk meminta kata maaf padanya. Yaa Allah, Aku bersalah besar
padanya” kata yang selalu bersenandung dalam hatiku.
*******
Malam sunyi, namun tak lepas sedikitpun bayangnya. Bukan
berlebihan namun itulah kenyataannya.
Sedang apa dan mengapa ia disana? Pertanyaan setan
gentayangan muncul. Namun tak takut akan kedatangannya. Malah membuatku senang.
Mar’ah-mar’ah,
kenapa aku bisa begini dan begitu. Karma, mungkinkah ini. dulu kau yang
menghampiri, kini ku gelisah tiada henti sebaliknya. Apa sebenarnya yang kau
pinta pada Tuhan, hingga buat ku begini. Mungkinkah balasan yang setimpal untuk
ku. Walau haru-hari ini kau berpaling dari semua senyumku.
Pernah ku tanya pada sehabatmu, si Puput, “Put, masihkah ada
rasa dalam dirinya untuk-ku, walau setetes pun?” aku sudah tidak bisa
menebaknya, karena selama ini yang aku tahu, kau telah tancapkan luka hingga ia
kecewa, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi mengingatmu, sakit katanya.
Hemzz... senyumku padanya. Mengapa sedemikian?
Entahlah, aku rasa ia sangat kecewa. Karena selama ini
harapannya sirna begitu saja.
Ya aku tahu itu,..
Mengapa kau tak katakan saja yang sebenarnya?
Entahlah, fikirku panjang untuk menyatakan kebenaran hati
ini, dan akhir dari kesimpulan itu, ku tancapkan dalam hati, bahwa keinginan ku
tuk memilikinya hanya dalam bayang dan mimpi ku saja, bukan tak mau dalam dunia
nyata, melainkan ada satu hal yang tak dapat aku pungkiri selama ini, bahwa aku
tak ingin memilikinya jika nantinya hanya membuat luka. Itu saja, tiada yang
lain, karena dia begitu indah bagiku, dan tak pernah ku temukan yang lain
selama pengembaraannku. Hanya dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar