Rabu, 20 Mei 2015

Bagian II

Bagian ini, hanya ku lukiskan kisah, dimana dia sudah tiada respon apa-apa. Namun aku lah yang ada.
Malam itu,
Assalamualaikum sebagai awal percakapan dalam SMS-ku padanya.
Waalaikum salam, bisakah ada yang bisa saya bantu? Balasannya. Ku rasa SMS ini cuek, namun Ku bingkai dengan warna yang berbunga. Karena senyumnya terus terbayang tatkala aku diam. Walau dalam hati aku selalu berkata “aku tak akan memilikinya”.
Hemz,... tidak ada, hanya ada satu hal yang ingin saya katakan, saya rindu senyum sampean. (Hee..) balasnya. Namun tak ku lanjut sms itu, kecewa rasanya, begitu juga aku merasa bahwa aku tetap tak pantas untuknya.
Memang hari-hari ini dia selalu menghindar dari kata-kataku, ku yakini itu mungkin trauma akan sejarah silam. Ya, sudahlah.. menyerah rasanya, namun mengapa aku masih mengharapkannya. Tapi tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Tertawaku sejenak.
*******
Pagi itu,
Tak seperti biasanya, dia tampak memalingkan wajahnya. Entah mengapa? Untuk menghindari akan hal itu, aku titipkan kata hatiku pada kekosongan, yang tak terucap apa lagi terurai. Gundah gulana sejak itu, bisik hatiku berkata bahwa ini adalah karma. Lanjut bertanya aku pada diriku, mengapa aku percaya (karma)? Namun diriku tak menolak akan hal itu, bahwa salahku tidak akan termaafkan padanya.
Sebenarnya, aku berkeinginan sekali untuk berbicara empat mata, untuk ku katakan maaf padanya. Karna, selama ini aku selalu terbayang wajahnya, dan ini adalah karma. Namun tak sempat keinginan itu terkabul.
Biasa, biasa dan biasa saja hari-hari yang sedemikian dituntut untuk meminta kata maaf padanya. Yaa Allah, Aku bersalah besar padanya” kata yang selalu bersenandung dalam hatiku.
*******
Malam sunyi, namun tak lepas sedikitpun bayangnya. Bukan berlebihan namun itulah kenyataannya.
Sedang apa dan mengapa ia disana? Pertanyaan setan gentayangan muncul. Namun tak takut akan kedatangannya. Malah membuatku senang.
Mar’ah-mar’ah, kenapa aku bisa begini dan begitu. Karma, mungkinkah ini. dulu kau yang menghampiri, kini ku gelisah tiada henti sebaliknya. Apa sebenarnya yang kau pinta pada Tuhan, hingga buat ku begini. Mungkinkah balasan yang setimpal untuk ku. Walau haru-hari ini kau berpaling dari semua senyumku.
Pernah ku tanya pada sehabatmu, si Puput, “Put, masihkah ada rasa dalam dirinya untuk-ku, walau setetes pun?” aku sudah tidak bisa menebaknya, karena selama ini yang aku tahu, kau telah tancapkan luka hingga ia kecewa, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi mengingatmu, sakit katanya.
Hemzz... senyumku padanya. Mengapa sedemikian?
Entahlah, aku rasa ia sangat kecewa. Karena selama ini harapannya sirna begitu saja.
Ya aku tahu itu,..
Mengapa kau tak katakan saja yang sebenarnya?

Entahlah, fikirku panjang untuk menyatakan kebenaran hati ini, dan akhir dari kesimpulan itu, ku tancapkan dalam hati, bahwa keinginan ku tuk memilikinya hanya dalam bayang dan mimpi ku saja, bukan tak mau dalam dunia nyata, melainkan ada satu hal yang tak dapat aku pungkiri selama ini, bahwa aku tak ingin memilikinya jika nantinya hanya membuat luka. Itu saja, tiada yang lain, karena dia begitu indah bagiku, dan tak pernah ku temukan yang lain selama pengembaraannku. Hanya dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar