Minggu, 24 Mei 2015

“Mengapa Aku Terlalu Yakin?”


Kisahku tentangmu tak seindah kisahmu dengannya. Ku yakin itu, walaupun kau tak merasakannya dan hanya aku seorang saja. Mengapa aku terlalu yakin?, karena inilah yang aku rasakan selama ini, membayangkanmu menjadi milikku selamanya (fiddun yaa wal akhiroh). Bukankan itu juga kau rasakan dulu kala.
Bicara soal rasaku tentangmu, kertas ini tak akan mampu memuat ceritanya dan aku pun tak mampu menceritakannya, saking terlalu indahnya. Gundah gulana aku dibuat olehmu. Mengapa tidak! Wong, Setiap senyummu yang bersifat permanen selalu dan tak permah dapat terhapus dalam diriku. Mengapa aku tak mengatakan senyummu permanen dalam benak, ingatan, intuisi, bayangan dan lain-lainnya, karena setiap senyummu menjelma dalam dan seluruh ke-“Aku”an-Ku.
Mengapa aku terlalu yakin? Inilah sejarahnya!. Walaupun toh dalam bentuk konkritnya (materilnya) tak pernah ada jejaknya (Aku & Kamu). Karena dalam bentuk konkritnya, jelas aku tak bisa memanifestasikannya, hingga akhirnya aku lari pada ranah ontologi[1] yang bersifat metafisika (being) bukan (beings).
Begitu juga mengapa aku terlalu yakin? Padahal yang aku rasakan ini bukanlah bersifat fenomen melainkan noumena[2]. Dalam setiap langkahmu aku amati dan aku pahami hingga aku mencoba memahami (Jerman: Verstehen). Dari situ, aku mulai mengerti bahwa kau sudah dan memang tak seharusnya aku miliki dalam bentuk fenomen atau dengan penampakan pada realitas terbuka, melainkan aku memilih realitas tertutup yaitu hanya akulah yang merasakannya[3]. Artinya apa, diam-diam aku berbohong dan berpura-pura pada diriku sendiri dalam bentuk empirisnya dan nyata dan benar dalam bentuk rahasia. Dan diam-diam ini juga merupakan bentuk ketidakjujuran terhadap diriku sendiri.
Mengapa aku terlalu yakin? Inilah sejarahnya!. Kaulah cerita tertulis dengan pasti, yang hanya untuk-Ku. Aku merasa tak apa-apa walaupun ini adalah suatu kanyataan yang bersifat historis bahwa “aku dikonsumsi oleh diriku sendiri hingga asing bagiku”.
Jika aku tak dapat menyentuhmu dengan tanganku, maka aku akan menyentuhmu dengan tatapanku. Jika aku tak dapat menyentuhmu dengan bahasa-Ku, maka aku akan menyentuhmu dengan bahasa naluriku. Mungkin inilah kata akhirku, juga menjadi kata kepuran-puraanku dibalik senyummu yang aku nikmati yang tak kau ketahui selama ini.
ttd: 12 Februari 2015
Mohammad Ishak Maulana



[1] Heidegger membedakan antara being dan beings. Being bagi heidegger adalah “ada”, sedangkan Beings adalah adaan-adaan atau mengada-ada.
[2] Immanuel Kant membedakan realitas menjadi dua, yaitu fenomena dan noumena. Fenomena adalah sesuatu yang tampak oleh indera, dan noumena adalah bentuk metafisik yang tampak dibelakang fenomena.
[3] Mohammad Arkoun membagi pengetahuan (al-Quran) masyarakat menjadi dua, yaitu corpus terbuka dan corpus tertutup. Corpus terbuka adalah pengetahuan yang bersifat umum, sedangkan corpus tertutup adalah pengetahuan individu atau khusus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar