Kisahku
tentangmu tak seindah kisahmu dengannya. Ku yakin itu, walaupun kau tak
merasakannya dan hanya aku seorang saja. Mengapa aku terlalu yakin?, karena
inilah yang aku rasakan selama ini, membayangkanmu menjadi milikku selamanya (fiddun
yaa wal akhiroh). Bukankan itu juga kau rasakan dulu kala.
Bicara soal
rasaku tentangmu, kertas ini tak akan mampu memuat ceritanya dan aku pun tak
mampu menceritakannya, saking terlalu indahnya. Gundah gulana aku dibuat
olehmu. Mengapa tidak! Wong, Setiap senyummu yang bersifat permanen
selalu dan tak permah dapat terhapus dalam diriku. Mengapa aku tak mengatakan
senyummu permanen dalam benak, ingatan, intuisi, bayangan dan lain-lainnya,
karena setiap senyummu menjelma dalam dan seluruh ke-“Aku”an-Ku.
Mengapa aku
terlalu yakin? Inilah sejarahnya!. Walaupun toh dalam bentuk konkritnya
(materilnya) tak pernah ada jejaknya (Aku & Kamu). Karena dalam bentuk
konkritnya, jelas aku tak bisa memanifestasikannya, hingga akhirnya aku lari
pada ranah ontologi[1]
yang bersifat metafisika (being) bukan (beings).
Begitu juga
mengapa aku terlalu yakin? Padahal yang aku rasakan ini bukanlah bersifat fenomen
melainkan noumena[2].
Dalam setiap langkahmu aku amati dan aku pahami hingga aku mencoba memahami
(Jerman: Verstehen). Dari situ, aku mulai mengerti bahwa kau sudah dan
memang tak seharusnya aku miliki dalam bentuk fenomen atau dengan penampakan
pada realitas terbuka, melainkan aku memilih realitas tertutup yaitu hanya
akulah yang merasakannya[3]. Artinya apa, diam-diam
aku berbohong dan berpura-pura pada diriku sendiri dalam bentuk empirisnya dan
nyata dan benar dalam bentuk rahasia. Dan diam-diam ini juga merupakan bentuk
ketidakjujuran terhadap diriku sendiri.
Mengapa aku
terlalu yakin? Inilah sejarahnya!. Kaulah cerita tertulis dengan pasti, yang
hanya untuk-Ku. Aku merasa tak apa-apa walaupun ini adalah suatu kanyataan yang
bersifat historis bahwa “aku dikonsumsi oleh diriku sendiri hingga asing
bagiku”.
Jika aku tak
dapat menyentuhmu dengan tanganku, maka aku akan menyentuhmu dengan tatapanku.
Jika aku tak dapat menyentuhmu dengan bahasa-Ku, maka aku akan menyentuhmu
dengan bahasa naluriku. Mungkin inilah kata akhirku, juga menjadi kata
kepuran-puraanku dibalik senyummu yang aku nikmati yang tak kau ketahui selama
ini.
ttd: 12 Februari 2015
Mohammad Ishak Maulana
[1] Heidegger membedakan antara being dan
beings. Being bagi heidegger adalah “ada”, sedangkan Beings
adalah adaan-adaan atau mengada-ada.
[2] Immanuel Kant membedakan realitas menjadi
dua, yaitu fenomena dan noumena. Fenomena adalah sesuatu yang tampak oleh
indera, dan noumena adalah bentuk metafisik yang tampak dibelakang fenomena.
[3] Mohammad Arkoun membagi pengetahuan
(al-Quran) masyarakat menjadi dua, yaitu corpus terbuka dan corpus tertutup.
Corpus terbuka adalah pengetahuan yang bersifat umum, sedangkan corpus tertutup
adalah pengetahuan individu atau khusus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar