Minggu, 24 Mei 2015

Si Gadis Berkacamata


Disela-sela aktivitasku tatkala menulis tentang filsafat, raut wajah senyumnya selalu hadir. Sehingga menghentikanku sejenak. Dan tatkala itu pula aku selalu terburu-buru untuk segera menyelesaikan tulisan filosofisku dan beralih menulis tentangnya.
Mar’atus Sholihah, si gadis berkacamata. Indah nan anggun serta senyumnya yang manja. Aku tergoda olehnya. Karena tak pernah seorang Ishak tergoda oleh seorang gadis dan tidak bisa memilikinya, namun kali ini saja dengan si dia, Mar’ah.
Tatkala berdua, ketepatan dia tidak pakai kacamata, aku selalu bertanya “kacamatanya mana?, iya ada, jawabnya. Kenapa tidak dipakek? Pusing sahutnya.
Sampean tahu gak? Kalo sampean pake’ kacamata lebih indah saya lihat. Keindahanku tergantung kacamata, jawabnya. Bukan begitu, jawabku.

Mar’ah, aku tidak akan memilikimu tanpa adanya ikatan suci. Dalam filsafat dikenal dengan bahasa yang mengikat dan penuh dengan tanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar