Disela-sela aktivitasku tatkala
menulis tentang filsafat, raut wajah senyumnya selalu hadir. Sehingga
menghentikanku sejenak. Dan tatkala itu pula aku selalu terburu-buru untuk
segera menyelesaikan tulisan filosofisku dan beralih menulis tentangnya.
Mar’atus Sholihah, si gadis
berkacamata. Indah nan anggun serta senyumnya yang manja. Aku tergoda olehnya.
Karena tak pernah seorang Ishak tergoda oleh seorang gadis dan tidak bisa
memilikinya, namun kali ini saja dengan si dia, Mar’ah.
Tatkala berdua, ketepatan dia
tidak pakai kacamata, aku selalu bertanya “kacamatanya mana?, iya ada,
jawabnya. Kenapa tidak dipakek? Pusing sahutnya.
Sampean tahu gak? Kalo sampean
pake’ kacamata lebih indah saya lihat. Keindahanku tergantung kacamata, jawabnya.
Bukan begitu, jawabku.
Mar’ah,
aku tidak akan memilikimu tanpa adanya ikatan suci. Dalam filsafat dikenal
dengan bahasa yang mengikat dan penuh dengan tanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar